MUI Jateng Rekomendasikan Naik Haji Tidak Wajib Bagi Penderita Gagal Ginjal atau Berkursi Roda

Salah satu rekomendasi adalah umat Islam yang memiliki masalah kesehatan berisiko tinggi tidak diwajibkan menunaikan ibadah haji.

MUI Jateng Rekomendasikan Naik Haji Tidak Wajib Bagi Penderita Gagal Ginjal atau Berkursi Roda
banjarmasinpost.co.id/kompas.com/AFP PHOTO
Ribuan tenda untuk menampung umat Islam yang tengah melangsungkan ibadah haji di Mina, di luar kota Mekah, Saudi Arabia, 19 September 2015. Sekitar 3 juta umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Mekah untuk melangsungkan ibadah Haji 

BANJARMASINPOST.CO.ID, SEMARANG - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah merekomendasikan sejumlah hal terkait pelaksanaan ibadah haji kepada pemerintah.

Salah satu rekomendasi adalah umat Islam yang memiliki masalah kesehatan berisiko tinggi tidak diwajibkan menunaikan ibadah haji.

Rekomendasi yang dihimpun dari para ulama anggota MUI se-Jateng ini diputuskan untuk diberikan kepada Kementerian Agama RI dalam waktu dekat.

“Syarat melaksanakan ibadah haji itu istitho’ah. Jika ada hal yang menghambat istitho’ah, maka haji hukumnya menjadi tidak wajib,” kata ketua MUI KH Ahmad Daroji, di Semarang, Kamis (5/11/2015).

Istitho’ah adalah kondisi seorang calon jemaah haji yang terhalang atau tertutup untuk melakukan ibadah haji dalam beberapa waktu karena berbagai faktor.

Seorang Muslim wajib menunaikan ibadah haji jika mereka mampu melaksanakan ibadah secara mandiri.

Kesehatan calon jemaah harus menjadi prioritas dengan rekomendasi dari tiga tim dokter ahli.

“Pernyataan dokter dilakukan saat dilakukan sebelum manasik di daerah,” ujar Kiai Daroji.

Ia menambahkan, bagi yang tidak istiho’ah tidak diwajibkan. Beberapa kondisi itu misalnya calon jemaah tidak memiliki biaya ongkos naik haji (ONH), memakai kursi roda, gagal ginjal, tidak mampu naik kendaraan dalam waktu lama, serta dalam kondisi hamil.

Selain itu, menunaikan ibadah haji menjadi tidak wajib bagi jemaah yang mengalami gejala psikis seperti sakit jiwa dan hilang ingatan atau pikun.

“Bagi yang tidak mendapat transportasi, tidak mendapat kuota, tidak mendapat visa juga untuk sementara hukumnya tidak wajib,” tambahnya.

Untuk diketahui, MUI Jateng tengah pekan ini mengkaji kewajiban menunaikan haji bagi warga negara Indonesia ke Arab Saudi.

Kajian itu diperlukan untuk mendukung pemerintah dalam memutuskan kebijakan untuk mengurangi seseorang menjalankan ibadah haji hingga berulang kali.

Namun, MUI juga merekomendasikan agar pemerintah memperhatikan calon jemaah yang mempunyai penyakit berisiko tinggi.
Penulis : Kontributor

Editor: Ernawati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved