Renyah, Kerupuk Kulit Kerbau Olahan Hardi Basuki Ini Tak Pernah Sepi Pembeli

Renyah, gurih, dan sedap terasa begitu mencicipi kerupuk Rambak hasil olahan Hardi Basuki (42).

Renyah, Kerupuk Kulit Kerbau Olahan Hardi Basuki Ini Tak Pernah Sepi Pembeli
banjarmasinpost.co.id/hari widodo
setiap pekannya Basuki edikitnya menghabiskan lima lembar kulit kerbau. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Renyah, gurih, dan sedap terasa begitu mencicipi kerupuk Rambak hasil olahan Hardi Basuki (42).

Tidak heran, bila kerupuk berbahan baku dari Kulit Kerbau ini tidak pernah sepi dari pembeli. Apalagi, untuk di Kalsel Kerupuk berbahan Kulit kerbau ini tergolong langka karena hanya tiga pengrajin yang menekuninya.

Menurut Basuki yang tinggal di Komplek Al Jihad RT 20 Kelurahan Sungai Pering Kabupaten Banjar itu, kerupuk olahannya memang diolah secara alami.

Bahan baku berupa kulit kerbau diolahnya tanpa campuran bahan kimia. Bumbu penyedap pun, hanya berupa garam.

"Kerupuk kita lebih segar dan rasanya pun sedap. Aroma daging terasa sekali, karena kita tidak ada bahan kimia untuk mengolah bahan baku kulit kerbau menjadi panganan kerupuk," ujar Basuki.

Jebolan Fakultas Hukum Unlam ini menjelaskan, keterampilan membuat kerupuk rambak ini didapatkan dari almarhum ayahnya.

Ayahnya, adalah seorang guru SD. Untuk menambah penghasilan rumah tangga, ayahnya menekuni kerajinan kerupuk rambak ini.

"Dari empat bersaudara sayalah yang meneruskan usaha ayah. Alhamdulillah, kerupuk rambak ini tak pernah sepi dari pembeli. Pesanan datang terus, kita yang kewalahan melayani,"ujar Basuki.

Menurutnya, setiap pekannya Dia sedikitnya menghabiskan lima lembar kulit kerbau.

Terkadang, kalau sedang banyak pesanan bisa sampai 6 lembar kulit kerbau diolahnya.

"Kendalanya cuaca hujan yang mengganggu pengeringan kulit kerbau yang kita olah. Bahan bakunya juga sekarang cukup mahal. Selembar kulit kerbau bisa sampai Rp1 juta untuk berat 30 kg bahkan sampai Rp2 juta untuk berat 50 kg,"ujar Istri Basuki, Rahmawati menambahkan.

Penulis: Hari Widodo
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help