Hasil Penelitian: Sarapan Junk Food Tak Berefek Positif bagi Para Pelajar

Penelitian juga menemukan makan junk food seperti keripik dan permen, terbukti tidak memiliki dampak positif pada pencapaian pendidikan mereka.

Hasil Penelitian: Sarapan Junk Food Tak Berefek Positif bagi Para Pelajar
THE SUN
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebuah studi baru memberikan bukti nyata bahwa anak-anak yang makan sarapan memiliki peluang lebih baik ketika belajar di sekolah.

Seperti dilansir The Sun, Selasa (24/11/2015), hasil penelitian menemukan pelajar yang menikmati makanan pagi hangat, memiliki peluang dua kali lebih mungkin untuk mencapai nilai di atas rata-rata daripada mereka yang pergi tanpa.

Namun, penelitian juga menemukan makan junk food seperti keripik dan permen, terbukti tidak memiliki dampak positif pada pencapaian pendidikan mereka.

Studi yang dilakukan oleh para ahli kesehatan masyarakat di Universitas Cardiff, Inggirs, diyakini menjadi yang terbesar sampai saat ini untuk menguji dampak jangka panjang sarapan bagi kinerja akademik pelajar.

Penelitian dilakukan terhadap 5.000 anak-anak berusia 9-11 tahun dari lebih dari 100 sekolah dasar.

Mereka diminta untuk membuat daftar semua makanan dan minuman yang telah dikonsumsi selama periode lebih dari 24 jam, termasuk sarapan.

Para peneliti kemudian melihat hubungan antara konsumsi sarapan dan pencapaian penilaian lokasi enam sampai 18 bulan kemudian.

Hasil penelitian menunjukkan, sarapan yang sehat secara signifikan memiliki dampak positif dengan kinerja pendidikan.

Faktor-faktor lain seperti jenis kelamin, kekurangan yang diukur dengan mengamati sekolah dan hak anak individu untuk makanan sekolah gratis, hingga perilaku diet sepanjang sisa hari turut diperhitungkan.

Satu dari lima anak-anak dalam penelitian ini, melaporkan bahwa mereka makan item yang tidak sehat untuk sarapan.

Para peneliti tidak menemukan hubungan positif antara jumlah makanan sarapan sehat dikonsumsi dan kinerja pendidikan.

Tim mengamati sinergi yang jelas antara kesehatan dan pendidikan, serta mendesak sekolah untuk mendedikasikan waktu dan sumber daya untuk meningkatkan kesehatan anak.

Studi sebelumnya di Inggris menunjukkan bahwa 14 persen dari anak berusia 7-15 tahun melewatkan sarapan, sementara 30 persen tidak makan apa-apa sampai makan siang.

Penulis: Yamani Ramlan
Editor: Yamani Ramlan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved