Pelaku Misterius, Dua Kasus Aborsi Jadi PR Jajaran Polresta Banjarmasin

Mengingat penemuannya di Sungai Martapura, penyelidikan dimotori oleh Satpolair. Satuan ini didukung oleh Satreskrim dan sejumlah polsekta.

Pelaku Misterius, Dua Kasus Aborsi Jadi PR Jajaran Polresta Banjarmasin
banjarmasinpost.co.id/huda
Personel Reskrim Polresta, Polair dan sebagian Polsek bergabung melakukan pemeriksaan di TKP penemuan orok bayi di Sungai Begau, Jalan Tembus Mantuil Gg Asparagus RT 24, RW 08, Kelayan Selatan, Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Polresta Banjarmasin masih menyelidiki dua kasus dugaan aborsi dan pembuangan janin karena pelakunya masih belum diketahui hingga detik ini.

Perburuan dilakukan terhadap perempuan yang mengandungnya dan orang yang membantu menggugurkannya.

Sabtu (26/12) pagi, warga Jalan Tembus Mantuil Gang Asparagus RT 24 Banjarmasin Selatan dikejutkan oleh penemuan janin di Sungai Martapura, tepatnya di muara Sungai Bagau. Janin diperkirakan berusia tujuh bulan.

Empat hari sebelumnya, tepatnya Selasa (22/12) siang, warga Jalan Veteran Gang Keluarga RT 12 Kelurahan Pengambangan Banjarmasin yang digegerkan oleh penemuan janin.

Janin yang diperkirakan berusia enam bulan itu juga ditemukan di tepian Sungai Martapura.

Mengingat penemuannya di Sungai Martapura, penyelidikan dimotori oleh Satpolair. Satuan ini didukung oleh Satreskrim dan sejumlah polsekta.

Kasatpolair AKP Untung widodo mengatakan anggotanya memeriksa sejumlah saksi dan mencari keterangan. ”Kami juga menunggu hasil autopsi dari Rumah Sakit Ulin,” ujarnya.

Ketua RT 24 Gang Asparatus, Ahmad Sarbani, menduga janin terbawa arus sungai dari hulu.

Penemuan janin yang dibuang sembarangan ini mendapat perhatian Kepala Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Sukma Noor Akbar. Banyak faktor yang membuat seseorang tega melakukan hal tersebut.

"Bagi sebagian orang, memiliki bayi tentu bukan hal yang mudah. Mendapatkan diri hamil juga tidaklah mudah bagi sejumlah perempuan. Apalagi kehamilan itu tak diinginkan karena berbagai alasan," katanya.

Alasan tersebut, menurut Sukma, bisa berupa usia yang belum cukup, masalah ekonomi, status perkawinan dan paling banyak akibat pergaulan bebas. Ini menimbulakn keinginan untuk mengakhiri kehamilan atau aborsi.

"Aborsi merupakan suatu tindakan ilegal di wilayah hukum Indonesia sehingga dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Pelaku juga berusaha menghilangkan bukti," ucapnya.

Pencegahan kasus aborsi, menurut Sukma, diawali dengan pendidikan agama, pendidikan seks, pengetahuan tentang bahayanya aborsi.

"Keluarga merupakan ujung tombak tumbuh kembang anak. Kuatnya pendidikan agama dalam keluarga akan membuat anak lebih berkarakter dan menghindari perilaku menyimpang," katanya. (kur)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help