Obituari DMA H Adjim Arijadi

Sang Pemersatu Seniman Banjar

Beliau identik dengan Sanggar Budaya. Sebagai organisasi berbentuk yayasan, Sanggar Budaya identik dengan pertunjukan drama.

Sang Pemersatu Seniman Banjar
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
Sastrawan dan budayawan Kalsel Adjim Arijadi

Oleh: Tajuddin Noor Ganie
Pemerhati Seni dan Budaya asal Kalsel

Innalillahi wa inna ilahi rojiun. Jumat, 1 Januari 2016, Pukul 23.58 Wita, telah kembali ke haribaan Allah Swt, Datu Mangku Adat Haji Adjim Arijadi (AA). Beliau meninggal dalam usia 75 tahun (lahir di Desa Mali-mali, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalsel, 7 Juli 1940). Berita duka itu tersebar luas dari akun facebook yang satu ke akun facebook yang lain, terus menyebar luas secara beranting dari detik ke detik.

Tidak ada catatan pasti sejak kapan aku mulai berkenalan dengan AA. Namun, pastilah selepas 1979, karena sebelum tahun itu aku masih tinggal di kota Banjarbaru. Aku memang lahir di Banjarmasin (1 Juli 1958), namun, tahun 1960 aku diboyong orangtuaku ke kota Banjarbaru.

Tahun 1979, aku kembali tinggal di kota Banjarmasin, karena aku diterima bekerja sebagai PNS di Kantor Pembinaan dan Penggunaan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin. Lokasi kantorku ketika itu di Jalan Cempaka I. Tidak berselang lama aku mulai mengenal banyak sastrawan yang tinggal di kota Banjarmasin, salah seorang di antaranya adalah Bapak Adjim Arijadi.

Beliau identik dengan Sanggar Budaya. Sebagai organisasi berbentuk yayasan, Sanggar Budaya identik dengan pertunjukan drama. Dulu, Sanggar Budaya berpusat di sebuah ruangan berukuran 5 x 9 meter di samping Bioskop Kamajaya (sekarang Gedung DPRD Kalsel). Dari tempat inilah AA mempersatukan anak muda kota Banjarmasin yang gemar berdrama. Para cikal bakal seniman itu dipersatukan oleh naskah drama yang sedang diproduksi, dan akan dipertunjukan secara visual di atas panggung atau pentas beberapa hari, minggu, atau beberapa bulan kemudian.

Yayasan Sanggar Budaya didirikan di Banjarmasin tahun 1967, pendirinya enam orang, yakni AA sendiri, Gusti Hassan Aman, Ali Ariffin, HM Alkaf, M Idris Saleh, dan Dra Hj Sulistinah. Paling tidak, sejak 1967 itulah AA mengabdikan dirinya secara total untuk menumbuh-suburkan gairah berdrama di kota Banjarmasin. Sungguh, suatu kurun waktu yang sangat panjang, yakni: 38 tahun. Hasilnya adalah ratusan kali pementasan drama dan ribuan orang telah berhasil dikader sebagai para pekerja drama yang andal. Hampir semua pekerja drama yang eksis di Kalsel sekarang ini pernah menimba ilmu yang dicurahkan oleh AA melalui Sanggar Budaya dari tahun ke tahun.

Ketika masih berkantor pusat di samping Bioskop Kamajaya (sekarang Gedung DPRD Kalsel) aku juga sering singgah untuk berbincang-bincang dengan sejumlah teman anggota Sanggar Budaya dan seniman Banjarmasin lainnya. Aku hampir tak pernah absen menyaksikan pertunjukan drama yang dilakukan oleh Sanggar Budaya, terutama sekali pergelaran akhir tahunnya. Seingatku, aku juga pernah menulis sejumlah reportase untuk sejumlah pertunjukan drama yang dilakukan oleh Sanggar Budaya.

Jagat Sastra

Selain menulis naskah drama dan naskah sinetron televisi, AA juga dikenal sebagai penulis puisi. Dalam buku Sejarah Lokal Kesusastraan Indonesia di Kalsel, aku memasukkan beliau dalam kelompok sastrawan Kalsel generasi penerus zaman Orde Lama 1960-1969. Beberapa teman seangkatan beliau sudah meninggal dunia lebih dulu, yakni: A Ruslan Barkahy, A Shafwani Ibahy, Andi Amrullah, Bachtar Suryani, Bachtiar Sanderta, Bur Anwar, Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, Ian Emti, Ismail Effendi, M Hadharyah Roch, M Muchtar AS, M Sulaiman Najam, Mas Husaini Maratus, Rusliansyah Jais, dan Yuniar M Ari.

Gairah bersastra di Kalsel pada tahun 1960-1969 didukung oleh 11 koran/majalah yang membuka rubrik sastra secara berkala, yakni

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help