Enjoy Banjarmasin

Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura

Jika Anda kemari, sebut saja nama Pasayangan, pasti yang pertama tercetus di benak warga setempat adalah penggosokan intan.

Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura - penggosokan-intan_20160109_212832.jpg
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura - penggosokan-intan_20160109_213138.jpg
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura - penggosokan-intan_20160109_212753.jpg
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura - penggosokan-intan_20160109_213032.jpg
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura - penggosokan-intan_20160109_212905.jpg
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura - penggosokan-intan_20160109_213154.jpg
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura - penggosokan-intan_20160109_213251.jpg
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura - penggosokan-intan_20160109_213034.jpg
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura - penggosokan-intan_20160109_213106.jpg
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Sebelum Jadi Perhiasan Mahal, Ternyata Begini Proses Penggosokan Intan di Martapura - penggosokan-intan_20160109_213205.jpg
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal

Di keluarganya, khususnya generasi mudanya enggan mewarisi pekerjaan ini.

Mereka lebih menyukai pekerjaan yang memiliki gaji pasti tiap bulan seperti menjadi pegawai kantoran, entah swasta atau pegawai negeri sipil.

"Di keluarga saya, hanya kalangan tuanya saja yang masih mau melakoni pekerjaan ini. Anak-anak saya tidak ada yang mau. Para penggosok intan lainnya di desa ini juga sama nasibnya dengan saya, tak ada penerusnya. Selain saya, di keluarga saya ada beberapa sepupu saya juga penggosok intan dan sudah tua-tua semua. Saya menggosok intan ini sejak masih duduk di bangku SD hingga sekarang usia saya sudah 51 tahun," jelasnya.

Hal itu cukup dimakluminya karena memang penghasilannya sebagai penggosok intan tak menentu, jika ada yang memesan saja.

Sekarat intan biasa ditarifnya Rp 350 ribu.

Tonton videonya di sini:

Dia biasa menerima pesanan menggosok beberapa karat intan, paling besar sekitar 60 karat.

Menurutnya, di masa lampu, sekitar puluhan atau ratusan tahun silam, hampir semua warga Desa Pasayangan Barat ini bekerja sebagai penggosok intan.

Namun sekarang sudah jauh berkurang, hanya tersisa sedikit dan semuanya adalah kalangan tuanya.

"Anak-anak mudanya sekarang enggan menggeluti pekerjaan ini dan sumber daya alamnya pun sudah jauh berkurang. Dulu, pendulangan intan banyak, sampai di Kalimantan Barat juga ada. Sekarang di sini hanya tersisa yang di Kecamatan Cempaka itu. Itu pun lahannya sudah banyak berkurang karena banyak dibangun perumahan, toko-toko," keluhnya.

Di balik kisah miris tersebut, intan hasil perut bumi Kabupaten Banjar yang sudah diolah menjadi berkilau indah dalam sebentuk perhiasan banyak dijual di toko-toko perhiasan di kota ini.

Beragam perhiasan bermata intan berlian itu pun kerap menjadi cinderamata favorit para pelancong, khusus mereka yang berduit banyak.

Harga sebuahnya bervariasi, sesuai bentuk dan jenis perhiasannya.

Kisarannya antara ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Di sebuah toko perhiasan di Komplek Pertokoan Cahaya Bumi Selamat, Jalan Ahmad Yani, Martapura, sebentuk gelang emas bertatahkan intan-intan berlian khas Martapura ini dibanderol Rp 50 juta.

Sementara di toko lainnya, tampak banyak berjejer cincin-cincin bermata intan berlian tersebut, sebuahnya dibanderol ratusan ribu rupiah.

Kilaunya pun tampak tajam, bersih, cemerlang dan indah memanjakan mata, khususnya kaum hawa.

Anda tertarik ingin melihat langsung proses penggosokan intan-intan cantik itu?

Bisa langsung saja ke lokasi asalnya di Desa Pasayangan Barat.

Menuju ke sana mudah saja karena letaknya di pusat Kota Martapura.

Tinggal naik saja kendaraan umum seperti angkutan kota atau becak motor.

Untuk becak motor, bisa naik dari Pasar Batuah yang berada persis di samping komplek pertokoan tersebut langsung ke desa itu.

Tarifnya Rp 10 ribu per orang dengan waktu tempuh hanya sekitar 10 menit.

Kalau menggunakan angkutan kota, bisa juga naik dari pasar tersebut atau dari Kecamatan Lianganggang, Kota Banjarbaru.

Tinggal pilih saja jurusan Martapura-Lianganggang, tarifnya jauh dekat Rp 5 ribu per orang.

Angkutan kota tersebut sebenarnya menuju ke Kecamatan Lianganggang di Kota Banjarbaru dari Kota Martapura, namun melewati desa ini.

Anda pesan saja ke sopirnya agar diturunkan di Desa Pasayangan Barat.

Kalau Anda dari Banjarmasin, tinggal naik saja angkutan umum Taksi Hulu Sungai dari Terminal Induk Km 6 di Jalan Ahmad Yani Km 6, pilih jurusan Martapura.

Turunnya di depan Pasar Batuah, selanjutnya tinggal melanjutkan saja naik angkutan kota ke desa itu.

Kalau menggunakan kendaraan pribadi, akan lebih nyaman melewati Jalan Martapura Lama.

Dari Banjarmasin, masuk saja ke Jalan Veteran yang berada di seberang Masjid Raya Sabilal Muhtadin atau dekat Siring Menara Pandang.

Jalannya tidak macet, apalagi jika sudah memasuki wilayah Kabupaten Banjar.

Setelah itu, jalan saja lurus sekitar 40 kilometer hingga bertemu batas Desa Pasayangan Barat, belok kanan, maka Anda sudah tiba di desa itu.

Kalau Anda melewati jalan negara seperti Jalan Ahmad Yani yang biasa digunakan warga atau pelancong untuk ke Martapura, akan lebih membingungkan kalau Anda tak tahu rute, karena bakal menemui banyak belokan, persimpangan dan harus memasuki Kota Banjarbaru dulu baru kemudian Kota Martapura dan desa tersebut. (Yayu Fathilal)

Penulis: Yayu Fathilal
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved