Diduga Terkait Gafatar, 600 KK Telah Masuk Kalbar

Setelah Gafatar dibekukan, kata Jhoni, para warga ini justru menjadi resah karena dianggap masih terkait dengan organisasi tersebut.

Diduga Terkait Gafatar, 600 KK Telah Masuk Kalbar
KOMPAS.COM/KIKI ANDI PATI
(Ilustrasi) Puluhan pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Sultra, mendatangi kantor Kanwil Agama dan kantor Gubernur Sultra menolak dikatakan organisasi yang menyebarkan ajaran sesat. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KAYONG UTARA - Sebanyak 600 lebih kepala keluarga (KK) dari luar Kalimantan Barat, pindah dan menetap di Kayong Utara.

Mereka datang ke sejumlah daerah di Kayong Utara, dengan alasan untuk bertani.

Ratusan KK tersebut tersebar di sejumlah wilayah termasuk di Kecamatan Pulau Maya.

Ratusan KK ini disinyalir tergabung dalam Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Informasi ini disampaikan Kepala Kasbangpol Kayong Utara, Jhoni Tarigan, yang pada Jumat (8/1/2016) lalu dilantik menjadi Kepala Bagian Umum Setda Kayong Utara.

Menurut Jhoni beberapa warga pendatang tersebut datang ke Kasbangpol Kayong Utara untuk menyampaikan bendera organisasi mereka.

"Di Sukadana dulunya, mereka tinggal di Desa Pangkalan Buton, mereka ada dua orang datang ke kantor. Mereka berbicara kepada kami, kalau mereka ini dulu diberangkatkan ke sini (Kayong Utara) awalnya dengan bendera Gafatar," kata Jhoni.

Saat itu, Jhoni menyampaikan kepada mereka bahwa Gafatar sudah dibekukan.

"Cuma mereka bilang mereka sudah berbaur dengan masyarakat, mereka sudah bertani di sini, makanya mereka tidak mau pindah dari sini," terang Jhoni.

Setelah Gafatar dibekukan, kata Jhoni, para warga ini justru menjadi resah karena dianggap masih terkait dengan organisasi tersebut.

Pihak Kesbangpol kemudian menganjurkan mereka untuk mengurus surat pernyataan kalau mereka bukan tergabung dalam organisasi Gafatar.

Surat ini nantinya diketahui camat serta pemerintah desa.

Namun hingga saat ini kedua warga yang datang tersebut tidak pernah memberikan surat pernyataan tersebut kepada Kesbangpol Kayong Utara.

Menurut Jhoni, perpindahan warga dari luar Kalbar terindikasi terkoordinasi dengan baik.

Sebab berdasarkan data yang ada, warga dari luar ini tidak hanya pindah dari satu tempat saja. Asal mereka berbeda-beda, ada dari Aceh, Medan, Jambi dan daerah lainnya

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved