BanjarmasinPost/

Habisi Mafia Narkoba Selamatkan Bangsa

Yang teranyar adalah ketika polisi sedang melakukan operasi tangkap tangan

Oleh: Moh Yamin
Dosen di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), setiap harinya remaja pengguna narkoba yang meninggal berjumlah 30-40 orang. Sekitar 4,2 juta orang terjerat dan menjadi korban narkotika. Yang lebih mengerikan lagi, ternyata para mafia narkoba pun semakin brutal mengedarkan narkoba, dan bahkan bisa saja melawan siapa pun yang dianggap dapat menghalangi dirinya untuk mengedarkan narkoba.

Yang teranyar adalah ketika polisi sedang melakukan operasi tangkap tangan terhadap pengedar narkoba dan kemudian mendapatkan perlawanan sengit dari pelaku. Itu terjadi di Jakarta dan Medan. Untuk kejadian di Jakarta, Bripka Taufik Hidayat kena bacok dan meningggal dunia setelah berusaha menyelamatkan diri dari kepungan massa dengan meloncat ke sungai Ciliwung. Korban lainnya seorang informan yang turut dalam penggerebekan, meninggal dunia di sungai tersebut. Sementara dua anggota polisi lainnya mengalami luka karena dikeroyok (18/01/16).

Di Medan, dua personel Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan tertembak ketika menggerebek kawasan narkoba di Desa Pematang Johar, Labuhan Deli, Sumatra Utara (19/01/16). Begitu pula peristiwa di Kawasan Tanjung Priok Jakarta, dimana mafia narkoba melawan polisi. Dua anggota polisi terluka kena tembakan dari bandar narkoba (20/01/16).

Membaca tiga rangkaian kejadian itu tentu sangat mengerikan. Para mafia narkoba sudah gelap mata dan menutup hati secara mendalam. Dalam pikirannya adalah bagaimana narkoba yang dibawanya dapat disebarkan kepada siapa pun yang bisa mengonsumsinya, tidak peduli, apakah narkoba tersebut merusak masa depan generasi bangsa dan menghancurkan nasib anak bangsa.

Apabila dibaca secara lebih kritis, seolah para mafia narkoba benar-benar ingin melakukan perlawanan secara terbuka kepada aparat dan negara bahwa mereka hadir di republik ini memiliki dua tujuan: pertama adalah demi keuntungan sesaat dan kedua untuk menghancurleburkan kehidupan berbangsa dari keadaban dan peradaban. Dampak terburuknya mengenai kehancuran masa depan bangsa bagi para mafia narkoba sudah dibuang sedemikian jauh.

Padahal kalau mau berbicara lebih serius dan edukatif, narkoba selama ini menjadi penyakit sangat luar biasa bagi kehidupan bersama. Sudah banyak korban berjatuhan akibat narkoba. Akibat narkoba, pendidikan anak-anak bangsa terabaikan. Mereka yang sudah terjebak dalam dunia narkoba menjadi abai terhadap keberlangsungan hidupnya ke depan. Akibat narkoba yang menggelapkan mata dan hatinya ke dalam dunia serba kesenangan sesaat, juga membawa penyakit mematikan bagi yang mengonsumsinya.

Berdasarkan hasil riset Puslitkes UI bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) 2014, kejahatan narkoba telah memberikan kerugian sosial ekonomi yang sangat tinggi, yakni sebesar Rp 63 triliun. Setiap tahunnya, diprediksi ada 33 orang yang harus meninggal. Yang lebih ironis lagi, kejahatan narkoba menghancurkan generasi masa depan sepanjang sejarah kehidupan berbangsa di republik tercinta ini.

Data BNN pada 2013 sangat jelas memberikan sebuah ilustrasi tentang pergerakan kejahatan narkoba, yakni terungkapnya 35.436 kasus yang melibatkan 43.767 tersangka atau meningkat sekitar 23%. Angka ini jauh berbeda dibanding 2012 yang masih berjumlah 28.623 kasus dan 35.453 tersangka.Data tersebut tentu ketika dikontekstualisasikan dengan kebrutalan dan keberanian para mafia narkoba untuk berhadap-hadapan langsung dengan aparat kepolisian telah menunjukkan bahwa sudah terjadi perang terbuka antara para mafia narkoba dengan negara. Para mafia narkoba melawan negara untuk bisa memudahkan kepentingannya dalam penyebaran narkoba, dan negara sepertinya menjadi kalah dan terkalahkan dengan aksi sporadis serta reaksioner dari para mafia narkoba.

Gerakan Bumi Hangus

Negara yang diwakili kepolisian dan BNN harus memiliki jurus gerakan bumi hangus terhadap para mafia narkoba. Apabila selama ini terkesan masih melakukan kompromi ketika proses penangkapan, ke depan tidak perlu lagi hal itu dilakukan. Mereka langsung saja ditembak mati di tempat sebagai shock therapy.

Kejahatan dalam dunia narkoba sama dahsyatnya dengan kejahatan terorisme. Ketika gerakan bumi hangus terhadap para pengedar, penjual, dan pengguna narkoba dilakukan, maka ke depan mereka akan ketar ketir untuk bermain-main dengan narkoba. Tidak hanya itu, para bandar pun baik dalam negeri maupun asing pun menjadi ketakutan. Sindikat narkoba yang berjejaring dalam banyak wilayah pun menjadi harus berpikir ulang untuk tetap terlibat dalam dunia narkoba.

Mengapa kejahatan narkoba secara terus menerus mengalami kenaikan baik secara kualitas maupun kuantitas, ini akibat begitu tolerannya negara terhadap siapa pun dan pihak mana pun yang terlibat. Contoh sederhana adalah ketika akan melakukan hukuman mati terhadap pengedar narkoba dari negara lain sebut saja Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dari Australia, Martin Anderson dari Ghana, Raheem Agbaje Salami dan Sylvester Obiekwe dari Nigeria, Rodrigo Gularte dari Brazil,Mary Jane Fiesta Veloso dari Filipina, Serge Areski Atlaoui dari Prancis, negara kemudian menjadi lemah akibat tekanan politik tertentu (baca: realitas). Ini membuktikan bahwa negara setengah hati melakukan bumi hangus terhadap pelaku kejahatan narkoba.Oleh sebab itu, ke depannya diperlukan sikap supertegas yang ditunjukkan dengan keberanian dari negara untuk melawan siapa pun dan pihak mana pun yang berusaha menggagalkan gerakan bumi hangus terhadap pengedar dan pengguna narkoba.

Kita tentu harus banyak belajar ke China, dimana negara tersebut benar-benar serius memberlakukan hukuman mati bagi yang melakukan kejahatan narkoba. Data menunjukkan bahwa hampir 500 orang telah dieksekusi di China setelah tahun 2000. Terhitungdari Januari 2005 sampai Mei 2006, China telah menghukum mati lebih dari 53.000 orang yang telah dieksekusi untuk berbagai pelanggaran narkoba.

China dalam konteks ini tidak begitu peduli kendatipun dunia melakukan kecaman terhadap hukuman mati yang dikaitkan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). China tetap memilih menghukum mati atas nama keselamatan bangsa dari kejahatan narkoba. Dalih atas nama HAM sesungguhnya merupakan duri bagi penyelamatan bangsa. Semoga nakhoda republik ini semakin tegas, ganas, dan berani dalam menuntaskan kejahatan narkoba yang sudah sangat jelas merusak dan menghancurkan generasi bangsa. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help