BanjarmasinPost/

Selamatkan Perempuan Indonesia

Data Komnas Perempuan pada 2014 menunjukkan jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 293.220 kasus.

Oleh: Moh Yamin
Dosen di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Ibarat berada di tengah samudra luas, ombak besar dan tinggi yang bernama kekerasan ter­hadap perempuan terus menerus berulang kejadiannya. Yang teranyar adalah seorang kader Partai Nasdem Dita Aditia diduga dipukul oleh Masinton Pasaribu, anggota Komisi III DPR RI (21/01/16). Ini adalah kon­disi ironis. Seharusnya seorang anggota dewan terhormat memiliki semangat memperjuangkan hak-hak rakyat, termasuk hak perem­puan untuk dilindungi dari tindakan kekerasan, ini sudah jauh dari kenyataan.

Anggota dewan terhormat seharusnya mampu menjadi sosok yang bisa melayani dengan lemah lembut serta memperlihatkan perilaku yang santun, ini justru gagal dilaksanakan secara konkret dan praksis. Apa yang terjadi ini sekaligus men­jadi pukulan telak terhadap Dewan Perwakilan Rakyat secara kelembagaan, walaupun oknum pelaku terduga bersifat personal.

Data Komnas Perempuan pada 2014 menunjukkan jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 293.220 kasus. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2013 sebanyak 279.688 kasus. Sejak 2010, angka ini selalu menunjukkan tren meningkat.

Masih menurut hasil analisis Komnas Perempuan, pola yang terjadi selama ini masih didominasi kekerasan dalam rumah tangga dan relasi personal sebanyak 68 persen, dan kekerasan yang terjadi dalam komunitas sebanyak 30 persen. Sisa_nya adalah kekerasan yang dilakukan negara terhadap perempuan Indonesia (6/03/15).

Apa yang dipublikasikan Komnas Perempuan menjadi sebuah lonceng suram bagi urgensi melindungi perempuan dalam konteks kekerasan di dalam bentuk apa pun, dimana pun, dan kapan pun. Diakui maupun tidak dan kita semua harus menyetujui, bahwa perempuan perlu mendapatkan ruang perlindungan untuk mengangkat harkat dan martabat mereka.

Perempuan adalah pilar bangsa. Semua laki-laki menjadi besar dan berhasil karena didampingi perempuan. Perempuan adalah sosok yang “tidak terlihat” sebab menjadi “orang yang selalu di belakang” bukan karena terbelakang. Memberikan masukan dan mendoakan agar pihak yang diberikan masukan dan didoakan terus maju untuk melakukan yang terbaik. Perempuan menjadi tokoh sentral dalam keberlangsungan hidup kaum laki-laki. Kita semua sebagai kaum laki-laki tidak bisa membantah keberadaan perempuan.

Mengapa perempuan kerap kali menjadi sasaran kekerasan dari kaum laki-laki? Ini akibat tidak mampunya melakukan “perlawanan”. Kendatipun harus melakukan “perlawanan”, itu pun terbatas dan mengalami keterbatasan karena dalam konteks apa pun dan sehebat apa pun seorang perempuan adalah mahluk lemah. Lemah dalam konteks ini umumnyamenggunakan emosi atau perasaan. Ini adalah sesuatu yang alami, melekat terhadap pribadi dan karakter perempuan secara kodrati.

Pribadinya dengan kepribadiannya yang subtil membawa dirinya untuk menggunakan perasaan dalam setiap interaksinya. Akhirnya, ketika dia bersinggungan dengan sesuatu perasaan, perempuan akan lebih banyak bereaksi, baik bersifat psikis maupun fisik. Barangkali itulah yang menyebabkan kaum laki-laki terkadang melakukan tindakan kekerasan walaupun tidak dibenarkan dengan alasan apa pun dan dalih apa pun. Dengan kata lain, kaum laki-laki sudah mengetahuidan menyadari itu namun mengabaikannya dengan alasan-alasan ego sektoral yang bersifat kelaki-lakian. Pada kondisi ini, konflik pun menjadi mudah terjadi.

De-Patriarki

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help