Warga Eks Gafatar Mulai Bosan di Penampungan

Berkaca dengan daerah lain yang sudah lebih dulu memulangkan warga eks Gafatar, Ahmad Rifai (36) juga berharap sama.

Warga Eks Gafatar Mulai Bosan di Penampungan
TRIBUN KALTIM / MUHAMMAD ARFAN
Suasana di pengungsian eks Gafatar di Gedung Bandiklat Bulungan, Minggu (7/2/2016). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG SELOR – Pascaevakuasi dari Kampung Penisir, Desa Pejalin, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan pada 24 Januari lalu, nasib 125 warga eks Gerakan Fajar Nusantara menggantung.

Pemkab Bulungan dan Pemprov Kaltara pun belum mengambil langkah pasti terhadap warga tersebut, direlokasi atau dikembalikan ke daerah asal masing-masing.

Seperti yang dialami Joko Wibowo. Pria eks Gafatar asal Sragen ini mengaku sudah jenuh di penampungan. Maklum, selama beberapa pekan terakhir, ia tak lagi bisa beraktifvtas seperti sedia kala, bertani.

“Badan sudah pegel-pegel semua, Mas. Lama gak pernah nyangkul,” sebut Joko saat ditemui di tempat penampungan warga eks Gafatar, Gedung Bandiklat Bulungan Jl.Agathis, Minggu (7/2/2016).

Joko datang ke Tanjung Selor sejak tahun 2013 lalu dan menggeluti profesi menjual gorengan di Jalan Jeruk hingga pertengahan tahun 2015.

Namun, karena jaringan organisasi Gafatar, Joko akhirnya hijrah ke Kampung Penisi Desa Pejalin (Tanjung Palas) bermukim bersama warga eks Gafatar lainnya. Mereka menggeluti profesi baru sebagai petani.

“Sudah masuk 3 minggu di penampungan, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan dipulangkan atau tetap bertahan. Kami berharap pemerintah secepatnya mengambil langkah,” ujarnya.

Berkaca dengan daerah lain yang sudah lebih dulu memulangkan warga eks Gafatar, Ahmad Rifai (36) juga berharap sama.

Pria eks Gafatar kelahiran Desa Harjosari, Kecamatan Suradadi, Tegal (Jawa Tengah) ini berharap pula pemerintah daerah mengambil langkah cepat menentukan nasib warga eks Gafatar di Bulungan.

“Pemerintah harus memperhatikan nasib kami. Ini sudah hampir 3 minggu sampai hari ini kami tidak tahu. Ada informasi kami akan di relokasi dan ada informasi akan dipulangkan. Ini membuat kami bingung,” kata Rifai.

Lebih lanjut Rifai mengungkapkan, kaum laki-laki dan kaum perempuan maupun anak-anak sudah mengalami kejenuhan. Belum lagi tekanan psikis akibat lingkungan yang tidak bebas.

“Anak-anak dan ibu-ibu butuh lingkungan yang nyaman yang relatif kondusif. Memang selama ini ada bimbingan tetapi mereka ingin suasana yang terbuka, mencair, dan lebih bebas. Intinya kami merasa jenuh karena belum ada kejelasan dari pemerintah,” jelasnya.

Aktivitas warga eks Gafatar selama di penampungan antara lain mengobrol, bimbingan kerohanian, ibadah, dan bermain.

Hingga berita ini diturunkan, Penjabat Bupati Bulungan belum dapat dikonfirmasi. (*)

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved