Ternyata Hormon Cinta Jadi Penentu Kesuksesan Pernikahan

Sementara itu pada manusia oksitosin memengaruhi pola pengasuhan dari orangtua ke anaknya.

Ternyata Hormon Cinta Jadi Penentu Kesuksesan Pernikahan
Thinkstockphotos
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Langgeng tidaknya biduk pernikahan ternyata bisa diprediksi dari hormon oksitosin alias hormon cinta. Yuk, berkenalan dengan hormon ini.

Oksitosin adalah molekul yang kuat. Kehadiran hormon ini akan mempererat ikatan sosial pada hewan. Sementara itu pada manusia oksitosin memengaruhi pola pengasuhan dari orangtua ke anaknya.

lebih dari itu, hormon oksitosin juga berperan dalam keintiman. Pria dan wanita memproduksi oksitosin dalam jumlah yang sama.

Dalam sebuah penelitian ditemukan, jika kadar oksitosin rendah selama kehamilan dan setelah persalinan, pasangan suami istri lebih besar kemungkinannya bercerai saat anak berusia 2,5 tahun.

"Level oksitosin yang rendah saat hamil terkait dengan risiko gagalnya pernikahan saat anak masih usia balita," kata ketua peneliti Jennifer Bartz, seorang psikolog.

Hormon oksitosin diketahui memengaruhi kesuksesan sebuah hubungan dengan mengubah cara seseorang menghadapi stres atau pengasuhan.

Tetapi bagaimana pun penelitian ini masih berupa dugaan. Lagi pula sangat jarang pasangan bercerai di usia awal seorang anak.

Bahkan jika ada masalah dalam perkawinan, orangtua biasanya termotivasi untuk tetap bersama-sama demi anak mereka.

Dalam jumlah yang rendah, oksitosin sangat mungkin memengaruhi keintiman suami istri, termasuk kepuasan seksual.

Salah satu hal yang bisa membuat kadar hormon cinta rendah selama kehamilan dan setelah melahirkan adalah tidak adanya bantuan atau dukungan dari orang sekitar saat seorang wanita menjalankan peran barunya sebagai ibu.

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved