(Kembalikan) Jatidiri Sepak Bola

OTORITAS sepak bola tertinggi dunia, FIFA, baru saja usai menggelar kongres luar biasa. Gianno Infantiono terpilih menjadi Presiden

(Kembalikan) Jatidiri Sepak Bola
tribunnews
Logo PSSI 

OTORITAS sepak bola tertinggi dunia, FIFA, baru saja usai menggelar kongres luar biasa. Gianno Infantiono terpilih menjadi Presiden FIFA priode 2016-2019 menggantikan Sepp Blatter. Infantiono yang juga Sekjen Konfederasi Sepakbola Uni Eropa (UEFA) naik kelas menjadi orang nomor satu di jagat sepak bola dunia dengan meraup suara mayoritas.

Sheikh Salman bin Ibrahim Al-Khalifa yang dijagokan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Afrika (CAF) kalah suara dari Infantiono yang didukung Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dan Amerika Selatan (CONMEBOL).

Dalam pidato pertamanya sesaat setelah terpilih, Infantiono langsung menebar janji akan melakukan reformasi di tubuh FIFA. Dia menyatakan akan mengembalikan citra FIFA yang berada pada titik suram di penghujung masa kepemimpinan Blatter akibat kasus suap.

Saat ini, sepak bola memang tidak semata-mata olahraga yang bermuara pada prestasi. Sepak bola sudah menjadi sebuah industri karena banyak uang terkait di dalamnya. Adanya keuntungan sangat besar itu pula yang membuat para pemilik modal membenamkan uangnya dari bisnis sepak bola. Dan, konglomerat di negeri ini, Erick Thohir, pun merogoh kocek triliunan rupiah membeli klub keren Italia, Inter Milan.

Sebagai sebuah industri, sepak bola modern memang tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai minor. Fairplay yang merupakan prinsip dasar dalam sepak bola kerap terintrodusir akibat faktor uang. Manajer, pemain, pengadil di lapangan, dan hakim garis, kerap terkhilaf dan menjadi tidak profesional lantaran faktor yang satu itu.

Nah, di pelataran sepak bola di negeri ini, hal seperti itu pun seolah sudah menjadi kelaziman. Itu pula sebabnya yang memicu kegeraman Menpora Imam Nachrowi membekukan organisasi sepak bola di Tanah Air (PSSI) sejak Mei 2015 lalu.

Buntutnya, lapangan-lapangan rumput yang selama ini biasanya riuh, berubah sunyi senyap. Kalaupun ada keriuhan, itu tidak lebih bersifat ‘hiburan’ semata --yang tidak memiliki makna. Langkah blunder Imam malah membuat gusar FIFA yang kemudian menjatuhkan sanksi dengan‘mengisolasi’ sepak bola Indonesia.

Selama pembekuan terhadap PSSI tidak dicabut, sanksi itu tetap melekat. Pekan tadi, angin segar pencabutan pembekuan terhadap PSSI sempat dilontarkan Ketua Komite Ad-Hoc Reformasi PSSI Agum Gumelar. Kata Agum, Presiden Joko Widodo memerintahkan Menpora Imam Nahrawi mencabut SK pembekuan PSSI.

Belakangan, pernyataan Agum diklarifikasi oleh Seskab Pramono Anung bahwa presiden tidak minta mencabut, tapi minta menpora mengkaji ulang pembekuan PSSI. Belum jelas, siapa sebenarnya yang benar terkait pernyataan presiden.

Pastinya, publik sepak bola di Tanah Air masih dibuat bingung dengan kondisi seperti ini. Dan, keriuhan (pertandingan) yang ada saat ini masih tetap tidak punya makna apa-apa. Kita masih tetap terisolasi dari dunia luar akibat arogansi pihak-pihak yang lebih mengedepankan emosionalitas ketimbang profesionalitas berlogika. Kita berharap Gianno Infantiono sebagai bos FIFA yang baru bisa lebih bijaksana menyikapi permasalahan sepak bola di negeri ini. Setidaknya mengembalikan sepak bola pada jati dirinya, bukan menjadi ‘mainan’ pihak-pihak yang mencari keuntungan pribadi, kelompok atau golongan. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help