Sebelum Selfie Berlatar Gerhana Matahari, Baca Saran Ini

Selfie tak ubahnya kebiasaan baru bagi masyarakat modern. Di setiap momen penting, selfie hampir selalu mengiringi agar momen tertentu tak lekang

Sebelum Selfie Berlatar Gerhana Matahari, Baca Saran Ini
travel indonesia
Gerhana matahari total 

BANJARMASINPOST.CO.IDSelfie tak ubahnya kebiasaan baru bagi masyarakat modern. Di setiap momen penting, selfie hampir selalu mengiringi agar momen tertentu tak lekang begitu saja.

Hal itu pun kiranya berlaku saat gerhana matahari total (GMT) yang bisa dilihat di 12 provinsi di Indonesia pada Rabu (9/3/2016) mendatang. Terlebih lagi, Indonesia merupakan negara satu-satunya yang dapat menikmati momentum tersebut.

Tentu banyak netizen yang sudah berencana mengabadikan potret diri bersama penampakan GMT. Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: gerhana matahari total atau sebagian dapat merusak mata jika dilihat langsung dengan mata telanjang.

Sebenarnya, waktu aman melihat langsung gerhana matahari total adalah ketika ia mencapai fase benar-benar total. Namun, harus diingat, peristiwa itu hanya terjadi selama satu setengah sampai tiga menit. Lewat dari itu, kondisinya berbahaya.

Lalu, apakah itu artinya selfie pada momen tersebut berbahaya?

Dilansir KompasTekno, Senin (7/3/2016) dari BBC, selfie ke arah gerhana matahari justru lebih aman. Sebab, ketika selfie, seseorang sejatinya membelakangi obyek foto.

Netizen bisa melihat sang gerhana matahari lewat layar ponsel. Artinya, arah mata tak langsung menuju obyek.

"Yang menjadi kekhawatiran adalah ketika orang melihat matahari dengan mata telanjang saat mengatur komposisi foto," begitu yang tertulis pada BBC.

Bagi netizen yang ingin mengabadikan momen gerhana matahari dengan kamera utama ponsel, justru mereka harus lebih berhati-hati terhadap hal ini. Netizen dianjurkan untuk memakai alat tertentu.

Alat yang dimaksud adalah kacamata hitam dengan kemampuan reduksi cahaya hingga 100.000 kali lipat. Ada pula proyeksi lubang jarum yang bisa dibuat sendiri untuk melihat fenomena 20 tahun sekali tersebut.

Rol film untuk foto, bekas foto rontgen, dan bagian dalam disket juga bisa dimanfaatkan sebagai alat alternatif melihat gerhana matahari.

Kalau merasa cara itu merepotkan, netizen seyogianya melihat saja gerhana matahari yang tertangkap di layar ponsel. Jangan serta-merta melongok ke arah pertemuan sang surya dan sang bulan.

Sebagai informasi, gerhana matahari total sudah beberapa kali terjadi di wilayah Indonesia sebelum 2016. Masing-masing pada 24 Oktober 1995, 18 Maret 1988, 22 November 1984, dan 11 Juni 1983.

Setelah 9 Maret 2016, gerhana matahari total diprediksi baru akan terjadi lagi di Indonesia pada 20 April 2042 dan 12 September 2053.

Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved