Toga Profesor

Demikian kurang lebih status seorang kawan saya di facebook. Karena terhibur membacanya, saya pun menulis komentar: ‘profokator!’ Saya senang sekali,

Toga Profesor
Bpostonline
Mujiburrahman

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Dua orang profesor berjumpa.
“Apa kabar, prof?”
“Alhamdulillah, baik, prof.”
“Dari mana, prof?”
“Dari kantor, prof.”
“Prof sendiri dari mana?”
“Saya dari perpustakaan, prof.”
prof...prof...prof...

Demikian kurang lebih status seorang kawan saya di facebook. Karena terhibur membacanya, saya pun menulis komentar: ‘profokator!’ Saya senang sekali, menertawakan budaya kita yang genit dengan gelar, bahkan (atau justru terutama), di kalangan terpelajar.

Sejak resmi menjabat sebagai guru besar, saya kadang merasa risi dengan perubahan panggilan sebagian orang kepada saya, yang tidak lagi menggunakan ‘pak’, tetapi ‘prof’. Meski risi, saya terima saja dipanggil begitu. Seolah saya tak berdaya menolak apalagi melarangnya. Diam-diam, muncul pula rasa senang. Sepertinya orang menghormati saya. Siapa pula yang tak suka mendapat hormat?

Profesor adalah guru. Tetapi entah mengapa, pengajar dari TK hingga SLTA, disebut guru, sedangkan di perguruan tinggi disebut dosen. Padahal, docent dalam bahasa Belanda berarti pengajar, di mana pun dia mengajar. Anehnya, puncak jabatan dosen disebut ‘guru’ lagi, tetapi ditambah dengan kata sifat ‘besar’. Ada pula yang menyebutnya ‘maha guru’. Padahal, ‘maha’ biasanya khas untuk Tuhan.

Kata’guru’ berasal dari tradisi keagamaan India, artinya pembimbing ruhani. Dalam budaya Banjar dan Mataram, ulama diberi gelar ‘tuan guru’. Tuan adalah panggilan kehormatan untuk pria. Dalam percakapan informal, kata ‘tuan’ biasanya tidak disebut lagi. Cukup ‘guru’ saja. Kemudian, mengikuti kebiasaan di Indonesia, orang Banjar juga menyebut pengajar TK dan sekolah sebagai ‘guru’.

Khusus untuk ulama, selain panggilan ‘tuan guru’, adapula ‘mu’allim’, dari bahasa Arab, artinya juga pengajar. Panggilan ini digunakan di lingkungan Pesantren Rasyidiyah Khalidyah, Amuntai. Adapun di kalangan pesantren modern atau yang didirikan sejak awal 1980-an, panggilan yang dipakai adalah ‘ustadz’. Panggilan ‘ustadz’ juga digunakan untuk para penceramah agama di kawasan perkotaan.

Dalam obrolan sehari-hari, gelar yang membangun jarak itu, dapat mencair, dengan cara dipenggal. Seperti ‘profesor’ menjadi ‘prof’, guru dan ustadz dipenggal menjadi ‘ru’ dan’tadz’. Selain itu, kata ‘ru’ dan ‘tadz’ kadang ditambah lagi dengan akhiran ‘ai’ menjadi ‘ruai’ dan ‘tatai’. Dalam bahasa Banjar, akhiran ‘ai’ itu berarti si pembicara ingin memberitahukan sesuatu dalam suasana yang akrab.

Namun, sedikit banyak, panggilan atau gelar itu tetaplah menciptakan jarak tertentu. Mungkin inilah yang membuat saya risi. Saya tidak nyaman dengan sebagian kawan, yang biasa menyebut langsung nama saya atau sekadar ‘pak’, sekarang malah memanggil ‘prof’. Saya merasa sikap mereka seperti tiba-tiba berubah. Apalagi jika yang memanggil ‘prof’ itu kawan seangkatan. Rasanya tidak lucu!

Persoalan bertambah rumit karena gelar atau panggilan itu seringkali menunjukkan relasi kuasa. Jadi bukan sekadar jarak, melainkan tingkat, tinggi-rendah. Pemegang gelar tertentu, dianggap memiliki otoritas atau kuasa tertentu. Kuasa itu memesona sekaligus menakutkan. Kuasa dapat melindungi, dapat pula menindas. Kuasa bisa mendatangkan kesejahteraan, bisa pula menimpakan penderitaan.

Karena itu, bobot kuasa di balik satu gelar atau panggilan itu menjadi penting. Bobot kuasa seorang profesor tentu tak sama dengan bobot kuasa bupati atau gubernur. Tetapi bobot kuasa itu jelas ada, yang tercipta melalui tali-temali nilai. Apakah nilai di balik gelar ‘guru’ dan ‘guru besar’? Nilai idealnya adalah ilmu dan kebijaksanaan. Nilai duniawinya adalah uang sertifikasi dan tunjangan kehormatan.

Nilai yang berlapis itu, ibarat pakaian yang berlapis, yang menghiasi sekaligus menutupi tubuh kita. Dalam wujud nyata, pakaian guru besar itu berupa toga, lengkap dengan topi dan kalungnya. Toga itu hanya dipakai pada waktu dan konteks yang bersifat akademik. Orang akan tertawa jika toga dipakai untuk pergi ke pasar, ke pesta perkawinan, ke masjid, apalagi sebagai busana sehari-hari.

Demikianlah, menggunakan gelar ‘prof’ dan gelar-gelar lainnya di setiap waktu dan tempat, ibarat memakai toga tanpa pernah melepaskannya. Toga itu menutupi diri seseorang yang sebenarnya, yaitu dirinya sebagai manusia yang setara dengan manusia lainnya. Akibatnya, dia berpeluang untuk diperlakukan dan memperlakukan orang lain karena ‘ada apanya’, bukan ‘apa adanya’. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved