Bercinta dengan Boneka

Bagaimanakah cara membedakan antara perkataan yang gombal dan yang serius, yang palsu dan yang sejati? Pertanyaan ini sulit dijawab,

Bercinta dengan Boneka
Bpostonline
Mujiburrahman

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

“Ragukan bintang-bintang itu api. Ragukan matahari itu bergerak. Ragukan kebenaran itu dusta. Tapi jangan pernah ragukan cintaku. “Demikian tulis William Shakespear dalam Hamlet.

Apakah puisi di atas gombal belaka? Dalam soal cinta, gombal itu mungkin saja. Konon, makin playboy seorang pria, makin ahli pula dia menyusun kata-kata merayu wanita. Tetapi mungkin pula, puisi itu adalah ungkapan kesungguhan yang tulus. Ketika dimabuk cinta, orang cenderung melihat dunia serba indah, sehingga kata-katanya pun menjadi indah. Orang yang jatuh cinta, cenderung menjadi puitis.

Bagaimanakah cara membedakan antara perkataan yang gombal dan yang serius, yang palsu dan yang sejati? Pertanyaan ini sulit dijawab, karena manusia memang pandai bersandiwara dan berpura-pura. “Dalam lautan dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu? Jangan dikira air yang tenang tak berbuaya!” Begitulah nasihat pepatah Melayu agar orang tidak terperangkap dalam permainan dusta.

Di era komunikasi canggih saat ini, rasa saling percaya tampaknya mulai terkikis oleh rasa ragu dan curiga, bukan hanya dalam soal cinta, tetapi hampir dalam semua hal. Informasi tersedia berlimpah ruah, tetapi manakah yang bisa dipercaya? Banyak pengamat berpendapat, kini media cenderung memihak kelompok tertentu, sementara media sosial (online) tak jarang melaporkan berita palsu.

Informasi langsung yang keluar dari mulut orang juga belum tentu layak dipercaya. Sudah maklum, janji-janji politisi dan pidato-pidato pejabat seringkali hanya kata-kata manis tanpa bukti nyata. Di kalangan penegak hukum, dari polisi, jaksa, hakim hingga sipir penjara, kejujuran dan keadilan juga makin langka. Dalam dunia bisnis, penipuan dengan berbagai modus justru makin beragam dan canggih.

Harapan kemudian jatuh pada tokoh agama dan cendekiawan. Ternyata, harapan ini juga goyah. Jabatan di organisasi sosial dan/atau keagamaan kadang diperebutkan dengan cara-cara yang tidak bermoral. Pengelolaan keuangan organisasi sering tidak transparan. Orang-orang kritis tersingkir. Demi uang dan jabatan, sebagian tokoh agama dan cendekiawan rela bersekongkol dengan penguasa yang korup.

Harapan yang tersisa adalah dunia pendidikan. Generasi muda, penerus yang tua, diharapkan akan lebih baik dibanding generasi yang berperan sekarang. Tetapi tantangan makin berat. Kejujuran dalam Ujian Nasional (UN) saja masih harus diperjuangkan. Lulus seratus persen seolah harga mati. Tidak lulus seolah mati. Budaya nyontek masih jalan hingga ke Perguruan Tinggi. Penjiplakan juga kadangkala terjadi.

Dalam dunia yang seperti ini, wajar jika orang harus memasang curiga dan waspada. Manusia makin sulit dipercaya. Karena itu, orang lantas lebih percaya pada mesin. Untuk menjumlah misalnya, lebih-lebih uang, mesin hitung lebih dipercaya. Agar tidak terjadi penyeludupan senjata dan narkoba di bandara dan penjara, dioperasikan mesin pemindai. Agar UN dan Tes CPNS jujur, ujian dilaksanakan online melalui komputer.

Padahal, mesin itu ciptaan manusia, dan dioperasikan oleh manusia. Karena itu, manusia bisa mengotak-atik mesin agar hasilnya sesuai keinginannya. Bahkan, andai campur tangan manusia terhadap mesin dapat dikontrol, masalahnya tetap serius, jika manusia akhirnya hanya percaya pada mesin, bukan pada sesamanya. Mesin menjadi berhala. Manusia tunduk kepada barang ciptaannya sendiri.

Tetapi dunia kita belum seburuk neraka. Rasa saling percaya itu masih ada di sekitar kita, dengan kadar yang berbeda-beda. Rasa percaya itu ada di rumah, pasar, kantor, sekolah, tempat ibadah hingga jalan raya. Hanya saja, rasa saling percaya itu mulai tergerus. Karena ego, mementingkan diri sendiri, keluarga atau kelompok, manusia tega mengkhianati sesama. Akibatnya, justru mesin yang lebih dipercaya.

Mesin tentu membantu manusia dalam kecepatan dan ketepatan.Mesin juga berguna memata-matai niat jahat manusia. Tetapi mesin tidak punya rasa, apalagi cinta. Jika orang hanya percaya pada mesin, dia akan kehilangan cinta. Dalam dunia yang penuh dusta dan curiga seperti itu, orang mungkin akhirnya lebih suka bercinta dengan boneka ketimbang dengan sesama manusia!

Jika hal itu terjadi, apa guna bait puisi Shakespeare, “Tapi jangan pernah ragukan cintaku”? (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved