Penolakan Buka Puasa Shinta Nuriyah Wahid di Semarang, Kiayi Ini Bereaksi

"Bikin tweet itu yg cerdas dan mencerahkan, ini malah bikin gaduh yg ga jelas. Apalagi katanya dia aktivis", kata Maman.

Penolakan Buka Puasa Shinta Nuriyah Wahid di Semarang, Kiayi Ini Bereaksi
Shinta Nuriyah Wahid 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Anggota DPR RI, KH Maman Imanulhaq mengecam keras aksi penolakan terhadap kegiatan buka puasa isteri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gusdur), Shinta Nuriyah Wahid di Semarang beberapa waktu lalu.

Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) itu menegaskan jika aksi penolakan itu menunjukan ketidakmengertian yang sengaja terus dipelihara.

Tidak mau belajar, merasa paling benar sendiri dan merasa yang paling ngerti agama.

"Arogansi itu bentuk indikasi pemahaman keagamaan yang dangkal. Ini berbahaya karena merusak ketentraman juga memicu konflik agama. Justru aksi mereka itu malah merusak saklaritas puasa," tegas anggota komisi VIII DPR itu kepada Tribun, Senin (20/6/2016).

Maman menilai tidak ada yang keliru dengan tradisi Bu Shinta yang sudah dilakukan sejak 2001 itu.

Bukankah kegiatan itu juga diadakan di pesantren, kolong jembatan, pura, wihara, penjara dan tempat lain.

Bahkan sudah jutaan orang yang bergembira dengan kegiatan Bu Shinta itu.

Memakan takjil dengan gembira, dan bisa berbagi keluh kesah tentang hidup mereka dengan Bu Shinta.

"Sulit dipahami acara positif kok dibubarkan. Aneh saja", kata Pengasuh PP. Al-Mizan Jatiwangi itu.

Tidak hanya mengecam aksi penolakan oleh salah satu Ormas Islam, Maman juga mengecam kicauan akun-akun yang menghina Istri Gusdur, Presiden RI ke 4 itu seperti Mustofa Nahrawardaya lewat akun Twitter @TofaLemon yang menyinggung keterbatasan Bu Shinta untuk upayanya berbagi dengan orang lain.

"Bikin tweet itu yg cerdas dan mencerahkan, ini malah bikin gaduh yg ga jelas. Apalagi katanya dia aktivis", kata Maman.

Atas dua perlakuan terhadap Bu Shinta itu, Maman mendesak adanya tindakan tegas dari Pemerintah.

"Jangan ada pembiaran. Dari soal-soal seperti ini relasi keagaaman kita terus-terusan tergganggu. Karena bisa jadi menyulut konflik yg lebih luas. Isu agama itu sensitif mesti dintisipasi. Kuncinya ya ketegasan Pemerintah itu," kata Maman.

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved