Analis: Ekonomi 2016 Sulit Berlari Kencang

dari sisi global masih mengalami tekanan. Terutama untuk harga komoditas yang masih rendah dan ketidakpastian dari kebijakan moneter negara maju

Analis: Ekonomi 2016 Sulit Berlari Kencang
banjarmasinpost.co.id/sudarti
Seorang pedagang pancarekenan sedang menimbang gula pasir 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Kinerja perekonomian paruh pertama tahun 2016 dinilai masih belum memuaskan. Sejumlah indikator menunjukan, tekanan masih terjadi baik dari eksternal maupun internal.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Hendri Saparini menilai, dari sisi global masih mengalami tekanan. Terutama untuk harga komoditas yang masih rendah dan ketidakpastian dari kebijakan moneter negara-negara maju.

Kondisi di dalam masih ada masalah di sisi penerimaan negara yang relatif rendah. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu cash flow pemerintah, terutama untuk membiayai pembangunan.

Itu sebabnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan pengampunan pajak. Dengan harapan ada tambahan penerimaan negara untuk mengganjal potensi shortfall.

Namun, menurut Hendri pemerintah tidak bisa menggantungkan diri hanya terhadap tax amnesty. "Tax amnesty tidak akan terlalu berpengaruh bagi pertumbuhan ekonomi tahun 2016," kata Hendri.

Dengan pertimbangan itu, Hendri memperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun 2016 maksimal hanya mencapai 5% saja. Bahkan bukan tidak mungkin, hanya akan berada di level 4,9%.

Hal itu bisa diantisipasi asalkan pemerintah mau keluar dari kebiasaan dalam mengelola fiskal. Diantaranya, mengenai perpajakan yang selama ini menjadi objek penerimaan saja.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Haryadi Sukamdani menilai, kebijakan perpajakan harus lebih mendorong kegiatan dunia usaha dan konsumsi masyarakat. Sehingga, pemerintah diminta untuk mengrangi statemen yang menyatakan akan mengejar pajak dari pengusaha.

Ia mengkritik pemerintah yang mewacanakan akan memungut cukai dari produk kemasan yang berbahan baklu plastik. Kebijakan itu, dinilai akan memukul industri makanan dan minuman.

Haryadi juga menilai, pemangkasan anggaran dalam APBN-P 2016 yang dilakukan pemerintah juga telah membuat kinerja beberapa industri menurun. Salah satunya industri hotel dan pariwisata. Karena ketika pemangkasan anggaran dilakukan, yang pertama dilakukan adalah mengurangi kegiatan rapat dan seminar di hotel.

Editor: Didik Trio
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help