Mantan Kalapas Batu Tolak Rp 10 Miliar dari Freddy Budiman, Sepekan Terakhir Sulit Tidur

Mantan Kepala Lapas Batu Nusakambangan, Sitinjak Liberty, berharap polemik tentang almarhum Freddy Budiman, gembong narkoba, segera selesai.

Mantan Kalapas Batu Tolak Rp 10 Miliar dari Freddy Budiman, Sepekan Terakhir Sulit Tidur
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Mantan Kepala Lapas Nusakambangan Liberty Sitinjak menjawab pertanyaan wartawan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN), Jakarta, Senin (8/8/2016). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, SEMARANG - Mantan Kepala Lapas Batu Nusakambangan, Sitinjak Liberty, berharap polemik tentang almarhum Freddy Budiman, gembong narkoba, segera selesai.

Nama Freddy kembali melambung ke publik setelah Koordinator KontraS, Haris Azhar, menuliskan testimoni tentang Freddy selama hidup di Lapas Batu, Nusakambangan. Yang membuat publik tersentak, uang Freddy masuk kantong oknum aparat BNN, Polri dan jenderal TNI.

Sitinjak berharap, berakhirnya polemik testimoni Freddy membuat semua pihak bisa kembali konsentrasi menyelesaikan pekerjaan masing-masing.

Dihubungi Tribun Jateng lewat telepon, Selasa (9/8/2016), Sitinjak yang kini menjabat Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM di Nusa Tenggara Timur itu mengaku sudah sepakan sulit tidur dan berkonsentrasi dalam bekerja.

Lantaran, Sitinjak harus meladeni pertanyaan dari berbagai pihak, satu di antaranya kalangan media, yang mengonfirmasi soal Freddy seperti diutarakan Haris.

Sitinjak tidak mengungkapkan lebih jauh siapa saja yang menghubungi dirinya setelah polemik ini meledak selain awak media.

"Saya ditelepon terus oleh wartawan. Bukannya saya tidak mau jawab, namun saya juga harus bekerja. Saya harap persoalan ini segera bisa selesai," kata Sitinjak.

Seharian ini ia mengaku mematikan telepon genggamnya agar bisa beristirahat dengan lebih tenang. Sehari sebelumnya, Senin (8/8/2016), Sitinjak mendatangi kantor Badan Narkotika Nasional di Jakarta Timur untuk memberikan keterangan soal Freddy.

"Begitu hidup, sudah banyak SMS yang masuk," lanjut Sitinjak.

Di sisi lain, pria kelahiran 1 Juli 1964 itu berpendapat, untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan berbenah diri. Jangan sampai ada kegaduhan di Indonesia. Dengan begitu, semua yang terkait dalam kasus ini bisa kembali bekerja dengan tenang.

Halaman
12
Editor: Edinayanti
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help