Serambi Ummah

Indahnya Ketika Seluruh Keluarga Pernah Berkurban

Ttak semua peserta ibadah kurban mengikuti sistem arisan atau tabungan ini, mereka yang mempunyai kelapangan rezeki mengeluarkan dananya langsung.

Indahnya Ketika Seluruh Keluarga Pernah Berkurban
banjarmasinpost.co.id/salmah
ilustrasi kurban 

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Alhamdulillah, hampir sepuluh tahun ini kami berkurban tanpa putus setiap Iduladha. Tiada terasa berat,” ujar Oemar Bakri,,seorang pegawai negeri esalon IV dengan dua anak..

Itu dilakukannya di tengah keuangan keluarga, yang nyaris tanpa kelebihan setiap bulan. Istilahnya pas-pasan untuk hidup sehari hari plus biaya pendidikan anak. Kalau lah tidak menempatkan prinsip ibadah itu utama, maka menurutnya, tiadalah dia bisa malaksanakan ibadah kurban setiap tahunnya.

“Tahun ini nilainya sekitar Rp 2 juta. Alhamdulillah dananya siap tanpa harus mengganggu dana keperluan dapur dan lainnya ,” tuturnya.

Itu, menurut pria ini, lantaran selama hampir sepuluh tahun mengikuti arisan kurban di kompleknya tinggal. Besarannya hampir sama dengan SPP sekolah anaknya setiap bulan.

“Kami sisihkan gaji untuk dapur, pendidikan anak dan tabungan kurban ini,” ceritanya lagi sambil menyebut kini tiga kali kurban atas namanya, tiga kali nama istri dan masing-masing satu kali untuk kedua anaknya.

Bukan hanya Oemar yang merasakan nikmatnya melaksanakan ibadah kurban setiap tahun melalui sistem arisan kurban yang praktiknya lebih mirip dengan menabung, tetapi sangat banyak muslimin yang mampu melaksanakan ibadah kurban setiap tahunnya berkat sistem arisan atau tabungan ini.

“Mengharap bayar cash pasti berat untuk ukuran keluarga seperti kami,” ini pengakuan Jono, seorang prajurit peserta arisan kurban yang lain.

Memang tak semua peserta ibadah kurban mengikuti sistem arisan atau tabungan ini, mereka yang mempunyai kelapangan rezeki tentu mengeluarkan dananya secara tunai ke panitia kurban.
Lalu dari dua sistem pembayaran ini, manakah yang lebih afdal?

“Ini ada pengalaman spiritual yang inspiratif dari seorang ibu buruh cuci,” ujar Dekan Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Prof H Ahmadi Hasan.

Selama bertahun-tahun, bahkan mencapai belasan tahun, dia menyisihkan hasil upah cucinya agar bisa melaksanakan ibadah kurban hingga akhirnya berhasil terkumpul uang senilai satu ekor kambing (hewan kurban).

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved