Camat Minta Maaf, Hadiah Celana Dalam Wanita Dikembalikan ke Panitia HUT RI

Perseteruan warga dan panitia HUT ke-71 Kemerdekaan RI di Kecamatan Sumarorong, Mamasa, Sulawesi Barat, terkait pemberian hadiah celana dalam

Camat Minta Maaf, Hadiah Celana Dalam Wanita Dikembalikan ke Panitia HUT RI
KOMPAS.com/JUNAEDI
Celana dalam wanita yang dibungkus koran bekas menjadi hadiah peserta lomba seni dan olahraga dalam HUT ke-71 Kemerdekaan RI di Kecamatan Sumarorong, Mamasa, Sulawesi Barat. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MAMASA - Perseteruan warga dan panitia HUT ke-71 Kemerdekaan RI di Kecamatan Sumarorong, Mamasa, Sulawesi Barat, terkait pemberian hadiah celana dalam wanita berakhir damai.

Henok Salamangi, tokoh masyarakat sekaligus anggota komite MAN 1 Sumarorong, mengatakan bahwa Camat Sumarorong dan Ketua Panitia HUT ke-71 RI setempat telah meminta maaf secara tertulis kepada MAN 1 Sumarorong yang mendapatkan hadiah tersebut sebagai juara lomba seni dan olahraga dalam acara itu.

Mereka kemudian berdamai dan tidak memperpanjang kasus ini ke ranah hukum. Hadiah celana dalam dikembalikan kepada panitia lomba.

"Celana dalam wanita yang dihadiahkan panitia kepada MAN 1 Sumarorong telah dikembalikan ke pihak panitia. Ini juga sebagai bentuk protes kepada panitia agar tidak bertindak gegabah apalagi menabrak nilai-nilai dan etika yang tumbuh di tengah masyakat," kata Henok, Sabtu (27/8/2016).

Kepala MAN 1 Sumarorong Arisenjaya Simbokaraeng menyatakan berbesar hati menerima permohonan maaf dari panitia. Sebagai pendidik, Arizenjaya menilai bahwa kasus ini kelak bisa menjadi pembelajaran penting bagi siapa pun.

Pada Senin lalu, Camat dan Ketua Panitia HUT RI Sumarorong telah mendatangi sekolah dan menyatakan minta maaf di hadapan ratusan siswa MAN 1 Sumarorong saat upacara bendera.

Hadiah celana dalam wanita yang dibungkus koran bekas itu sempat dibawa ke kantor Polsek Sumarorong, Mamasa, Rabu lalu, sebagai barang bukti laporan dugaan penghinaan dan pelecehan terhadap wanita.

(Baca juga Gara-gara Hadiah Celana Dalam Wanita, Camat Dilaporkan ke Polisi)

Sementara itu, Andi Waris Tala, salah satu aktivis lembaga swadaya kemasyarakatan Mamasa yang ikut melaporkan hal itu, merasa kecewa karena kasus pelecehan ini hanya diselesaikan di atas selembar kertas pernyataan minta maaf.

Waris sebagai warga Mamasa tidak bisa menerima jika prestasi anak didik hanya dihargai dengan selembar celana dalam.

"Ini salah satu contoh ketidakmampuan oknum panitia memaknai proklamasi dan prestasi seseorang. Bukan persoalan harga celana. Apa salahnya panitia memberi hadiah yang lebih mendidik, seperti pensil, buku, tas, dan lain-lain? Jangan justru memberi hadiah berbau porno yang melahirkan kontoversi dari kalangan masyarakat," kata dia kepada Kompas.com, Sabtu.

Menurut Waris, seharusnya kasus ini tetap diselesaikan lewat jalur hukum agar menjadi pembelajaran berharga bagi siapa pun. Ia mengingatkan kepada institusi negara untuk melakukan hal-hal yang tidak bertentangan dengan sikap moral dan etika masyarakat setempat.

"Saya laporkan ke polsek, namun banyak yang kritiki. Laporan saya masih di polsek, belum dicabut," ujar Waris.

Comstanthinus Claver, warga Mamasa, juga menyayangkan kejadian ini. Ia menyesalkan rendahnya penghargaan terhadap nilai-nilai etika yang tumbuh di tengah masyarakat.

"Ketika moralitas dan etika pemimpin makin terpuruk dan dipertanyakan, mesti ada garda depan yang mengawal nilai-nilai etik yang tumbuh di masyarakat. Itulah bagian terpenting tanggung jawab kita mempersiapkan generasi emas. Bila tidak, mau dibawa kemana generasi ini," kata Comstanthinus dalam akunnya.

Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved