Waduh! Warga Filipina Takut Mengkritik Cara Presidennya Berantas Narkoba

Sison tewas pada bulan lalu oleh tembakan polisi, yang memburu pengedar obat terlarang di permukiman Pasay, Manila, seperti dilaporkan Reuters.

Waduh! Warga Filipina Takut Mengkritik Cara Presidennya Berantas Narkoba
AFP
Presiden Filipina Rodrigo Duterte. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MANILA - Mayat sopir taksi Eric Sison (22) dibiarkan terbaring dalam peti di kawasan kumuh Manila bersama seekor ayam, yang ditempatkan untuk secara simbolik mematuk kesadaran pembunuhnya.

Sison tewas pada bulan lalu oleh tembakan polisi, yang memburu pengedar obat terlarang di permukiman Pasay, Manila, seperti dilaporkan Reuters.

Dalam video rekaman penembakan Sison, yang beredar di media gaul, terdengar suara "Jangan lakukan, saya akan menyerah!". Yang terjadi kemudian adalah suara tembakan.

Di samping peti mayat Sison terdapat poster bertuliskan "Keadilan untuk Eric Quintinita Sison" dan tulisan tangan "Pembunuhan Besar-besaran - Keadilan untuk Eric".

Gerakan untuk Sison itu adalah protes langka di tengah lonjakan pembunuhan terhadap warga Filipina dalam kebijakan keras terhadap pengedar dan pengguna narkotika sejak Presiden Rodrigo Duterte berkuasa 30 Juni lalu.

Di luar hukum

Hampir tidak ada yang menentang kebijakan mematikan itu.

Pada pekan lalu, jumlah keseluruhan orang yang tewas sejak 1 Juli telah mencapai 2.400 orang dengan sekitar 900 orang di antaranya tewas dalam operasi kepolisian.

Sisanya adalah ‘kematian saat pemeriksaan’, kalimat dari pegiat hak asasi manusia untuk menggambarkan pembunuhan di luar hukum.

Lembaga penyelidik internal kepolisian Filipina (IAS) dan Komisi Hak Asasi Manusia (CHR) tidak bisa lagi menangani semua peristiwa pembunuhan tersebut.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved