Hampir 3 Ribu Tewas Dalam Perang Melawan Narkoba di Filipina

Para aktivis HAM menyebut Duterte mendorong rakyatnya untuk melakukan pembunuhan di luar pengadilan. Duterte juga berulang kali menyatakan, polisi aka

Hampir 3 Ribu Tewas Dalam Perang Melawan Narkoba di Filipina
NOEL CELIS / AFP
Dalam foto yang diambil pada 8 Juli ini, terlihat polisi Filipina tengah memeriksa jasad seorang pria yang tewas ditembak orang tak dikenal di Manila. Di sebelah jasad pria itu terletak selembar kertas bertuliskan saya seorang penjual narkoba . 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MANILA - Pemerintah Filipina, Minggu (11/9/2016) menilai, perang melawan narkoba yang sejauh ini memakan korban hampir 3.000 orang dalam dua bulan, telah menuai kesuksesan.

Pernyataan itu disampaikan juru bicara kepresidenan Martin Andanar sambil menegaskan, banyak dari para korban tewas akibat "perang antargeng" dan bukan aksi main hakim sendiri yang didorong Presiden Rodrigo Duterte.

"Operasi kepolisian sangat sukses. Namun, juga terjadi perang geng di mana mereka saling membunuh. Polisi masih menyelidiki masalah ini," kata Andanar.

Pernyataan ini merupakan reaksi Andanar terhadap laporan kepolisian yang menyebut bahwa sejak Duterte berkuasa dua bulan lalu, setiap hari 41 orang warga negeri itu dibunuh.

Hingga akhir pekan lalu, 1.466 orang tewas dalam operasi anti-narkoba yang digelar kepolisian. Demikian dijelaskan juru bicara kepolisian Senior Superintenden Dionardo Carlos.

Sementara 1.490 orang lainnya yang tewas diklasifikasikan dalam "kematian yang masih diselidiki" karena mereka tewas dalam situasi yang mencurigakan.

Sebagian besar dari mereka adalah korban main hakim sendiri yang dilakukan warga atau ditemukan tewas dengan tulisan yang menyebut korban sebagai pengedar narkoba atau pelaku kejahatan.

Para aktivis HAM menyebut Duterte mendorong rakyatnya untuk melakukan pembunuhan di luar pengadilan. Duterte juga berulang kali menyatakan, polisi akan melindungi rakyat dari hukuman jika mereka membunuh pengedar narkoba.

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved