Berkat Suaranya, Penyiar RRI Banjarmasin Ini Pernah Ditawari Jadi Bilal di Korea Selatan

Dia juga biasa salat di satu masjd di Korea yang berada di daerah bernama Itewon. Masjid itu didirikan oleh Turki dan setiap Jumat dia ke sana.

Berkat Suaranya, Penyiar RRI Banjarmasin Ini Pernah Ditawari Jadi Bilal di Korea Selatan
Istimewa
H Fathurrahman saat jadi iman salat Idulfitri di Kedubes RI di Seoul Korea Selatan 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Suaranya khas, mengingatkan pada penyiar radio dulu. Berkat kemerduan suaranya itu pula, H Fathurrahman ketika bertugas dan mengikuti pendidikan di luar negeri selama beberapa tahun, pernah ditawari sebagai bilal masjid di negara minoritas muslim, Korea Selatan.

Waktu itu, dia sebagai penyiar di RRI Banjarmasin. Bertugas dan mengikuti pendidikan di Jerman selama satu tahun pada 1984 dan selama dua tahun, 1992-1994 di Korea Selatan.

Setelah satu tahun di Jerman, lelaki kelahiran Amuntai, 14 Juli 1951 ini kembali ke Banjarmasin dan pada 1992 dia mendapatkan tugas menjadi konsultan bahasa Indonesia pada siaran radio Korea Selatan atau Korean Brodcasting System (KBS) di Seoul. Ini merupakan kerja sama Departemen Penerangan dengan KBS.


H Fathurrahman saat bertugas sebagai konsultan bahasa Indonesia pada Korean Brodcasting System (KBS) di Seoul

“Selain menyiar dan terjemah bahasa Inggris-Indonesia, juga memperbaiki bahasa dari bahasa koran ke bahasa radio,” kata pensiunan PNS RRI Banjarmasin ini.

Saat di Negeri Ginseng itu, menurutnya ada pengalaman yang tak bisa dia lupakan. Waktu itu di Kedubes RI di Seoul ada buka puasa bersama, tapi ketika itu tak ada kegiatan keagamaan.

Suatu saat, beberapa hari menjelang Idulfitri dia sempat berbincang dengan Wakil Dubes RI di Seoul, waktu itu dijabat Alwi Anas. Dia mengusulkan, bagaimana kalau diadakan salat Idulfitri di Kedubes. Gayung bersambut, Alwi Anas 'menyetujui' dan kemudian berbincang dengan Dubes RI waktu itu dijabat Rudolf Kasenda .

"Ternyata sambutan Pak Dubes sangat bagus, beliau mendukung malah menyediakan makanan khas Indonesia pada hari itu. Kita undanglah warga Indonesia yang ada di Korea untuk salat Idulfitri bareng dan aku diminta jadi imam. Ini salat Idulfitri berjemaah pertama di sana," ujarnya H Fathurrahman yang fasih berbahasa Inggris ini bangga.

Bahkan, warga Indonesia yang hadir ketika itu banyak, sekitar 400 orang. Kemudian program ini berlanjut dengan salat Iduladha dan lainnya.

Dia juga biasa salat di satu masjd di Korea yang berada di daerah bernama Itewon. Masjid itu didirikan oleh Turki dan setiap Jumat dia ke sana.

"Sempat bertanya bagaimana dengan bilal (yang mengumandangkan azan) di masjd ini. Kata orang yang di sana, siapa mau bisa jadi bilal. Maka aku pun mencoba," kata Fathurrahman yang sebelumnya jadi bilal di Masjd Raya Sabilal Muhtadin selama puluhan tahun hingga 1995.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved