Serambi Ummah

Waspadai Kuas Makanan Berbahan Bulu Babi

Dalam mengolah kue kering biasa menggunakan kuas untuk mengoleskan mentega, baik untuk mengoles mentega pada oven maupun kue yang dipanggang

Waspadai Kuas Makanan Berbahan Bulu Babi
1080.plus
Ilustrasi- Penggunaan kuas pada proses pembuatan kue 

BANJARMASINPOST.CO.ID KUAS, satu perlengkapan yang akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Baik untuk merias wajah, melukis, membersihkan debu, mengecat rumah, mengoles loyang kue, hingga mengoles makanan.

Memasak ayam bakar, ikan bakar, roti, kue, dan aneka daging serta seafood yang dipanggang atau dibakar biasa juga pakai kuas untuk mengoles minyak dan kecap.

Di pasar dan di rumah makan, sering dijumpai juga para pedagang menggunakan kuas untuk menyapukan minyak dan kecap saat membakar ikan dan ayam. Pemakaian kuas membuat sapuannya lebih merata.

Begitu juga dengan pedagang martabak atau terang bulan, kuas dipakai di antaranya untuk mengoleskan mentega dan membersihkan wajan bekas gorengan. Tidak terkecuali memasak steak atau jagung bakar, juga memerlukan kuas untuk mengoles mentega.


Ummi.online.com

Pernahkah terpikirkan, berasal dari apakah kuas yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari itu? Kuas yang beredar di pasaran ada dua jenis, yaitu kuas alami dan kuas sintetis.
Kuas alami terbuat dari bulu hewan, sedangkan kuas sintetis dibuat dari plastik. Menurut informasi, besar kemungkinan kuas yang beredar di pasaran ada berasal dari bulu babi utamanya kuas yang diimpor dari China.

Kuas impor tersebut diproduksi menggunakan bulu babi, terutama babi hutan yang berbulunya lebat. Warna bulunya putih kekuning-kuningan. Produk kuas atau sikat yang berlabel bristle itu artinya mengandung bulu babi.

Bagi umat muslim, penggunaan bulu babi jelas haram. “Sekecil apapun itu, material dari babi tak dibolehkan, hukumnya haram apalagi digunakan untuk produk makanan,” kata Ketua Bidang
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalsel, KH Abdussamad Sulaiman.

Beberapa tahun lalu, negeri ini pernah dihebohkan dengan munculnya berita tentang kuas yang berbahan bulu babi, sampai-sampai MUI mengeluarkan fatwa haram menggunakan kuas atau sikat bulu babi itu.

Kaum muslim pun diimbau agar lebih teliti dalam memilih kuas atau pun sikat gigi, karena ada produk yang menggunakan bahan yang tidak halal.

Warga Jalan Sultan Adam, Kompleks Mahligai, Kota Banjarmasin, Marwiyah mengatakan, selama ini sering memakai kuas untuk mengoleskan putih telur ke kue kering yang diolahnya, baik itu nastar dan kue kering lainnya.

Penggunaan kuas lebih mudah dan lebih merata kuning telurnya. Jauh beda kalau menggunakan sendok, banyak yang tumpah atau meleleh dan tidak merata.

Namun sekarang setelah mengetahui kalau pemakaian kuas untuk produk makanan tak dianjurkan, karena dikhawatirkan berbahan bulu babi, akhirnya tak sembarangan lagi beli kuas untuk produk makanan. “Lebih jeli memilih kuas, pilih kuas produk lokal agar lebih aman,” kata Marwiyah.


yanfreski.blogspot.com

Senada diungkapkan Zaenab, warga Jalan Veteran Banjarmasin. Dalam mengolah kue kering biasa menggunakan kuas untuk mengoleskan mentega, baik untuk mengoles mentega pada oven maupun kue yang dipanggang

Pemakaian kuas untuk produksi kue kering sudah lama dilakukan Zaenab. Dan selama ini tak pernah menyangka kalau bulu kuas itu dari bulu babi. Sebagai seorang muslim tentunya tak boleh menggunakan produk yang tak halal. Untuk itu, ke depannya akan ganti dengan kuas yang bulunya bukan dari bulu babi.

"Kalau sudah tahu seperti ini memang seharusnya menghindari. Sebab, itu produk yang diharamkan. Lebih baik menghindari karena pertanggungjawabannya berat di akhirat nanti," kata ibu muda berputra dua itu. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved