Inilah yang Membuat Peredaran Zenith di Banua Merajalela

Pil Zenith punya pangsa pasar tersendiri. Menyoroti peredaran obat berbahaya ini, seorang ahli di Banjarbaru punya analisa khusus terkait Zenith.

Inilah yang Membuat Peredaran Zenith di Banua Merajalela
Banjarmasin Post Group/Ibrahim Ashabirin
(Ilustrasi) Pil Zenith hasil tangkapan Polres Tapin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Pil Zenith punya pangsa pasar tersendiri. Menyoroti peredaran obat berbahaya ini, seorang ahli di Banjarbaru punya analisa khusus terkait Zenith.

Kaprodi Farmasi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Liling Triyasmono menyebutkan bahwa Zenith termasuk golong obat keras.

"Masalah penyalahgunaan obat ini memang rumit, rantai distribusi yang laten. sangat tidak logis sampai ada yang menyimpan hingga dua juta butir zenith. Kenapa ini menjadi merajalela? Dikarenakan "demand" yang tinggi. Keseriusan untuk betul-betul memperbaiki sistem pengawasan sangat diperlukan harus diputus mata rantai distribusinya," tegasnya.

Dia mengatakan, berdasarkan analisis farmasi, Zenith memiliki komposisi karisoprodol 200 mg, parasetamol 160 mg dan kafein 32 mg. Jadi ya obat keras.

Dikatakannya lebih lanjut, berdasarkan efek farmakologisnya sebagai anti nyeri dan relaksan otot yang singkat. Namun pada karisoprodol saat termetabolisme akan menjadi meprobamate yang memilki efek depesran sistem saraf pusat.

"Sederhananya, pada dosis yang tinggi akan berefek memabukkan, euforia, dan halusinasi dan kecanduan. Harusnya obat ini hanya bisa ditebus dengan resep dokter. Sehingga peningkatan penyalahgunaan obat ini perlu diselidiki asal muasalnya," katanya.

Masih menurutnya, konsumsi terus menerus akan mengancam kerusakan ginjal, sistem saraf pusat dan akhirnya seluruh organ. (*)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved