Menggapai Ridha Ilahi

Seorang ustadz berceramah di hadapan ibu-ibu yang cukup banyak, ia bertanya santai, Ibu-ibu, apakah ibu-ibu mau masuk surga?

Menggapai Ridha Ilahi
dok BPost
KH Husin Naparin

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

SEORANG ustadz berceramah di hadapan ibu-ibu yang cukup banyak, ia bertanya santai, “Ibu-ibu, apakah ibu-ibu mau masuk surga?” Mereka serentak menjawab. “Ya” Sang ustadz berkata lagi, “Raihlah ridha Allah dengan mengawinkan suami ibu.”

Mendengar jawaban itu, semuanya diam. Tiba-tiba seorang ibu setengah baya berdiri seraya berkata nada garang, “Ustadz, saya mencari surga dengan cara yang lain saja, kalau dengan mengawinkan suami, tidak. bukankah, tidak satu jalan ke Roma, sama saja ustadz, tidak satu jalan ke surga, bahkan banyak sekali.”

Tetapi, inilah yang dilakukan oleh Sarah, istri Nabi Ibrahim AS, ribuan tahun yang lalu. Ia sadar dirinya mandul. Dengannya, Nabi Ibrahim AS tidak akan mendapat anak; lalu siapakah yang akan meneruskan dakwah tauhid jika Ibrahim meninggal?

Ia pun meminta agar Ibrahim mengawini pembantunya, Hajar. Setelah kawin, Hajar pun hamil dan melahirkan seorang anak, diberi nama Ismail. Sejumlah literatur menyebutkan, bahwa setelah kelahiran Ismail, muncullah kecemburuan bahkan kedengkian Sarah.

Ia pun meminta kepada Ibrahim, agar menjauhkan Hajar dan anaknya Ismail dari pandangan matanya, ia tidak sanggup hidup serumah dengan Hajar dan menyaksikan Hajar menggendong anak. (Ath-Thabbarah, Ma’a Al-Anbiya fi Al-Qur’an Al-Karim, hal. 122 ). Benarkan demikian? wallahu’alam.

Seorang pengarang Mesir bernama Abdu Al-Hamid Jaudah Al-Sahhaar dalam bukunya: Muhammadurrasulullah menjelaskan sebagai berikut, “Antara Sarah dan Hajar tidak pernah terjadi permusuhan, Sarah tidak menaruh cemburu kepada Hajar. Sarah adalah wanita beriman yang selalu menerima perintah Allah SWT dengan penuh ridha.

Ketika Hajar hamil, Sarah sujud kepada Allah SWT gembira, karena suaminya akan mendapatkan keturunan. Ketika Ismail dilahirkan, Sarahlah yang pertama menggendong dan mengangkat bayi itu, kemudian menyerahkannya dengan penuh kasih sayang kepada suaminya Ibrahim, seraya berkata : Ibrahim, ini anakmu.

Allah SWT pun mengganjarkannya dengan mengaruniakan seorang putra bernama Ishak, padahal ia seorang wanita mandul; sebagai balasan bagi mereka yang selalu bersyukur.”

Sarah tidak mengusir Hajar. Mengapa Hajar dibawa ke lembah gersang dan ditempatkan di tengah-tengah padang pasir nan sepi tanpa penghuni. Hal ini terjawab; ketika Ibrahim meninggalkan keduanya, ia berdoa dikejauhan, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim ayat 37).

Sarah dengan ikhlas mengawinkan suaminya, hanya satu; karena ingin menggapai ridha Ilahi. Ibrahim menempatkan anak dan istrinya di dekat al-bait, sahara kering dan gersang tanpa tanaman, hanya satu; untuk menggapai ridha Ilahi. Hajar pun rela menerima apa yang diputuskan suaminya, hanya satu; untuk menggapai ridha Ilahi. Setelah Ismail tumbuh besar, datanglah perintah Allah untuk mengorbankannya dengan menyembelihnya, Ismail pun menerima dengan ikhlas, hanya satu, untuk menggapai ridha Ilahi.

Di sini ada kata kunci yang harus kita petik.Mari kita bertanya ke dalam lubuk jiwa kita masing-masing: Pasangan suami-istri, dalam berkeluarga; Para remaja dan mahasiswa, dalam belajar dan menuntut ilmu; Para buruh dan pekerja, dalam bekerja; Para guru dan cerdik cendekia, dan bahkan ulama, dalam mengajarkan ilmu; Para pejabat dan pegawai negeri, dalam berdedikasi dalam mengatur negara dan umat; Para pedagang dan para ekonom, dalam memutar ekonomi dalam berbisnis; Para orang tua, dalam mencari rezeki; Para politikus, baik di tingkat pusat maupun di daerah, nasional maupun lokal, dalam berpartai. Adakah kita semua berupaya menggapai ridha Allah?

Idul Adha hari raya kurban telah berlalu. Seorang ulama, Mahmud Al-Mishri, berkata :
“Setiap hari kamu mengerjakan amalan fardhu dan kamu selamat dari kemaksiatan, maka itu adalah hari raya bagimu.” (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help