Sang Pemberantas Pun Tergiur

Berbagai cara untuk memberi efek jera pun terus dilakukan. Mulai ancaman hukuman yang cukup berat, baik kepada pengguna,

Sang Pemberantas Pun Tergiur
Bpost/Riza
Tajuk

UPAYA perlawanan terhadap penyalahgunaan dan peredaran narkotika, psikotropika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) tak henti-hentinya dilakukan semua kalangan. Baik di lingkungan pegawai negeri sipil (PNS), kepolisian, Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga ke kampung-kampung. Intinya semua orang, bahkan semua makluk hidup harus menjauhi barang haram tersebut.

Berbagai cara untuk memberi efek jera pun terus dilakukan. Mulai ancaman hukuman yang cukup berat, baik kepada pengguna, pengedar hingga yang mengetahui tidak melapor juga terancam hukuman penjara. Termasuk sebelum dijatuhi hukuman atau vonis, juga sudah diberi sanksi saat gelar perkara. Kasusnya diulas, dan wajahnya difoto, direkam video hingga semua lapisan masyarakat mengetahui. Bahkan sanksi moral ini tak kalah beratnya dengan hukuman penjara yang akan dijalaninya itu.

Tak ayal, hampir setiap hari hasil pengungkapan penyalahgunaan dan peredaran narkoba itu selalu menghiasi media cetak dan elektronik. Hal itu dihajatkan sebagai salah satu upaya untuk memberi efek jera atau sanksi sosial kepada semua lapisan masyarakat. Artinya, jika terlibat dalam kasus itu akan mengalami ‘penyiksaan’ seperti yang dialami para tersangka sebelumnya.

Tragisnya, semakin gencar dalam memerangi narkoba, juga semakin banyak yang terjaring. Termasuk juga tidak sedikit yang coba-coba menikmati barang haram itu. Bahkan yang lebih mengenaskan, justru yang berusaha menikmati itu aparat yang notabene harus berada di garda depan dalam memerangi narkoba.

Tak mengherankan jika kabar dugaan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Direktur Reserse Narkoba Polda Bali, Kombes Pol Franky H Prapat dengan cepat menyebar. Termasuk beragam tanggapan dari berbagai kalangan langsung bermunculan akibat ulah sang perwira itu. Meskipun masih dalam proses pemeriksaan dan tetap menjunjung tinggi azaz praduga tak bersalah.

Setidaknya munculnya kasusnya menjadi pukulan telak jajaran kepolisian. Seharusnya menjadi panglima dalam pemberantasan barang haram itu, ternyata malah terjerumus dalam kubangan barang haram dengan menikmati sisi lain dengan cara dugaan memainkan kasus yang ditangani jajarannya.

Memang, narkoba merupakan kejahatan yang cukup menggiurkan, karena melibatkan orang yang memiliki uang banyak. Jangan heran jika ada oknum aparat yang tergiur. Sebab, Karena diperlukan kekuatan jiwa dan kebersihan ahklak untuk melakukan pemberantasan.

Selain itu, pengawasan dari berbagai kalangan juga harus diperkuat. Pengawasan tidak hanya dilakukan internal, namun juga eksternal seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan media. Artinya, hasil penangkapan, penggerebekan yang dilakukan aparat, baik kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) juga harus disampaikan kepada masyarakat secara terbuka.

Kemudian, yang tak kalah pentingnya, perjalanan kasus itu juga harus dikawal agar tidak ada pihak-pihak yang bermain untuk mencari keuntungan secara pribadi maupun kelompok. Sebab jika tergiur oleh pundi-pundi kasus tersebut, maka niat untuk memerangi dan memberantas narkoba hanya tinggal kenangan dan harapan belaka. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved