Banua Pusaran Narkoba

PENANGKAPAN empat penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 227 tujuan Surabaya yang membawa sekitar 4,2 kilogram

Banua Pusaran Narkoba
Bpost/Riza
Tajuk

PENANGKAPAN empat penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 227 tujuan Surabaya yang membawa sekitar 4,2 kilogram narkoba jenis sabu, sungguh sangat mengagetkan. Bukan hanya karena jumlahnya yang cukup banyak, tapi juga peta peredaran narkoba yang ternyata mulai berubah.

Kalsel selama ini diketahui adalah sebagai lokasi masuknya narkoba dari daerah lain terutama Jakarta dan Surabaya. Namun kali ini malah berbalik, Kalsel ternyata diam-diam menjadi pemasok narkoba ke luar daerah. Tak tanggung-tanggung daerah tujuan narkoba adalah Surabaya yang selama ini dikenal juga sebagai salah satu tempat bersarangnya para bandar narkoba kelas kakap.

Lantas kenapa, justru bandar narkoba dari Kalsel yang kini memasok barang haram tersebut ke Ibu Kota Jawa Timur tersebut. Apakah ini sebagai bukti bahwa sebenarnya bandar narkoba kelas kakap justru kini telah pindah home base ke Kalsel. Tentu hanya polisi yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, namun dengan catatan berhasil mengungkap jaringan kasus yang sangat menghebohkan ini.

Pertanyaan lain, jika barang itu tidak diproduksi di Kalsel, dari mana para bandar itu mendapat pasokan sabu itu. Apakah lintas Kalimantan setelah dampak makin mudahnya akses darat dari Kalbar dan Kaltim. Lagi-lagi hanya jajaran kepolisian yang menyelidi kasus ini yang bisa menjawabnya.

Namun yang pasti kasus penangkapan sabu yang tergolong cukup besar ini makin membuktikan Kalsel makin darurat narkoba. Bahkan lebih dari itu bisa jadi Bumi Lambung Mangkurat ini juga sudah menjadi pusaran narkoba. Buktinya, beberapa tersangka pengedar bahkan bandar narkoba di provinsi tetangga, terutama Kalteng yang ditangkap polisi mengaku mendapatkan narkoba dari Banjarmasin.

Jika itu benar, apa sebenarnya yang menjadikan para pebisnis narkoba sangat tertarik menjalankan bisnis ini di Kalsel. Apakah pengawasan yang dinilai lebih longgar atau memang karena konsumen yang lebih banyak.

Tentu kita tidak bisa tinggal diam terhadap mudahnya narkoba beredar di Banua ini. Semua lapisan harus memiliki satu tekad untuk bersama-sama memerangi narkoba. Kesadaran besarnya dampak akibat penggunaan narkoba terhadap keselamatan jiwa harus selalu diberikan kepada masyarakat terutama generasi muda yang merupakan penerus bangsa.

Perang terhadap narkoba tentu tidak cukup dalam bentuk sosialisasi dan pendekatan ke sekolah-sekolah atau kampus dengan memberi materi ke siswa dan mahasiswa akan bahaya narkoba, tapi harus ada aksi bersama untuk memberantas narkoba.

Memang tugas perang terhadap narkoba tidak bisa hanya dibebankan kepada penegak hukum terutama aparat kepolisan, namun peran masyarakat justru jauh lebih penting yakni mau membantu aparat kepolisian memerangi narkoba.

Jika semua lapisan mau bersatu memarangi narkoba, peredaran narkoba di Banua ini lambat laun pasti bisa diminimalisasi. Terpenting ada kemauan, tekad dan aksi untuk memberantas narkoba dengan tujuan yang sama Banua bebas narkoba. Semoga. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved