Mengikis Daya Pikat Narkoba

Membincangkan masalah narkoba, ibarat cerita bersambung, yang (mungkin) akan berakhir jika tokoh protagonisnya yaitu para bandar dan

Mengikis Daya Pikat Narkoba
BPost Cetak
Muh Fajaruddin 

Oleh: Muh Fajaruddin Atsnan MPd
Pengamat Pendidikan
Dosen STKIP PGRI Banjarmasin

Membincangkan masalah narkoba, ibarat cerita bersambung, yang (mungkin) akan berakhir jika tokoh protagonisnya yaitu para bandar dan pengedar ditumpas hingga ke akar-akarnya. Begitu pelik dan urgentnya masalah narkoba tergambar dari tiga sajian tajuk Banjarmasin Post dalam kurun waktu hampir sebulan. Pertama, tajuk edisi Selasa (20/9/2016) ber judul Senjata Tumpul Berantas Narkoba yang menyorot tentang Badan Narkotika Nasional (BNN) yang mempercanggih persenjataan dan teknologinya, serta harapan jangan sampai senjata canggih tidak berguna atau malah tumpul.

Kedua, tajuk edisi Rabu (21/9/2016) berjudul Sang Pemberantas Pun Tergiur tentang narkoba sebagai kejahatan yang cukup menggiurkan, tak terkecuali bagi oknum apparat, sehingga diperlukan kekuatan jiwa dan kebersihan ahklak untuk melakukan pemberantasan. Ketiga, yang teranyar, tajuk edisi Rabu (28/9/2016) berjudul Banua Pusaran Narkoba tentang penangkapan empat penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 227 tujuan Surabaya yang membawa sekitar 4,2 kilogram narkoba jenis sabu, yang mengagetkan, karena Kalsel selama ini diketahui adalah sebagai lokasi masuknya narkoba dari daerah lain terutama Jakarta dan Surabaya, namun kali ini Kalsel diam-diam menjadi pemasok narkoba ke luar daerah (baca : Surabaya). Ketiga tajuk tersebut menyiratkan pesan agar niat untuk memerangi dan memberantas narkoba semakin kokoh, jangan malah luntur bahkan kendor, serta menghimbau warga Banua untuk waspada akan anomali yang mengisyaratkan Kalsel makin darurat narkoba.

Daya pikat
Bisa jadi, merajalelanya penggunaan narkoba di Bumi Pertiwi seperti sekarang ini, merupakan sinyal bahaya akibat daya pikat narkoba sehingga diperlukan effort tanpa batas untuk mengikisnya. Apalagi pasar dan target para pengedar saat ini sudah menjamah siswa SD bahkan TK, yang bisa menjadi bom waktu, yang mampu menghancurkan generasi muda dan generasi penerus bangsa yang mempunyai potensi melanjutkan estafet pembangunan nasional, akibat pengaruh buruknya.

Sebegitu dahsyat daya pikat narkoba, sehingga tak aneh jika narkoba sudah menyebar ke semua lini maupun profesi bisa termakan “khasiat” buruk narkoba. Dari orang biasa, kalangan artis, hingga yang mengaku “guru spiritual” pun terjerat barang haram narkoba. Bahkan faktanya beberapa oknum aparat negara pun terjerat narkoba. Pertanyaanya adalah kalau penegak hukum sudah terkontaminasi dan terpikat barang haram narkoba, bagaimana di tingkat bawah (masyarakat)? Setidaknya ada dua daya pikat narkoba yaitu sebagai obat penenang maupun jalan keluar masalah yang dihadapi para pemakai maupun pecandu.

Pertama, bagi para pemakai maupun pecandu, narkoba menjelma bak dewa penyelamat di tengah krisis kepercayaan seperti kekecewaan, depresi, dan ketiadaan tujuan hidup. Menggelitik ketika ada pemberitaan yang mengabarkan para pemakai maupun pengguna adalah mereka yang bereputasi baik, publik figur, dan oknum yang digadang-gadang sebagai garda terdepan dalam pemberantasan narkoba. Pertanyaanya adalah mengapa banyak orang yang berbakat, berprestasi, dianggap terpandang dan yang menikmati berbagai kemudahan justru termasuk dalam golongan atas lebih memilih dan sengaja menjerumuskan diri dengan mengkonsumsi narkoba daripada menghadapi kenyataan yang ada sekarang ini?

Masih melekatnya hal-hal berbau materialistis dan berorientasi kesuksesan pada masyarakat kita, ditengarai menjadi penyebab kaburnya pemikiran utama untuk memenuhi kebutuhan emosi dan rohani. Semakin dilematis ketika kebanyakan agama yang ada, kewalahan dalam memenuhi kebutuhan jiwa, mental, dan menebalkan iman masyarakat akibat lunturnya karakter dan budi pekerti yang berimbas pada maraknya perilaku menyimpang generasi muda yang mudah terbujuk untuk menggunakan obat-obat terlarang.

Kedua, narkoba mampu menjadi jalan keluar atas alasan klasik akibat himpitan ekonomi yang mendera, sebagai dampak masalah ekonomi, pengangguran, dan kemiskinan. Benar saja, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2016 mencapai 7,02 juta orang atau 5,5 persen. Meskipun jumlah pengangguran tersebut menurun bila dibandingkan dengan Februari 2015, yang mencapai 7,45 juta orang (5,81 persen). Ironisme masalah pengangguran dan kesan sempitnya lapangan kerja mampu menjadikan ribuan orang bergantung pada penjualan narkoba ilegal untuk mencari nafkah.

Bahkan, kepala BNN, Komjen Pol, Budi Waseso, pernah mengatakan bahwa akibat peredaran narkotika, setiap harinya 40-50 orang yang meninggal dunia. Sementara untuk perputaran uang di bisnis gelap narkoba mencapai Rp72 triliun selama setahun, dikarenakan Indonesia adalah pasar terbesar narkoba di Asia, dimana tiap tiga bulan, warga Indonesia menghabiskan Rp1,2 triliun dengan berbagai jenis narkotika, sebagai bukti sahihnya.

Coba Kikis
Segala bentuk upaya pencegahan guna mengikis masalah penyalahgunaan dan peredaran narkoba, sudah ditempuh. Misalnya menggiatkan sosialisasi dan penyuluhan akan bahaya narkoba, menggiatkan kegiatan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang dilakukan dengan melibatkan semua elemen masyarakat, membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti Narkoba hingga di tingkat kelurahan yang diharapkan mampu menekan peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang ada di kampung-kampung, hingga ancaman hukuman mati bagi para pengedar dan bandar, namun seolah juga belum mampu menuntaskan masalah narkoba. Mengingat kompleksnya penyalahgunaan dan peredaran barang haram narkoba, sejatinya mendorong kita untuk benar-benar mafhum atas apa sebenarnya akar penyebab masalah narkoba serta terus menggali sehingga mampu menemukan solusi permanen berantas narkoba.

Salah satunya dengan terus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada BNN pusat maupun daerah yang terus istiqomah dalam usaha membumihanguskan narkoba, juga kepada para seluruh pegiat anti narkoba yang tanpa lelah mengkampanyekan bahaya narkoba. Harapannya BNN dan aparat penegak lebih konkret, militant, tak tebang pilih, dan menyeluruh dalam berantas narkoba. Kemudian, pantang berpuas diri dan bangga akan peningkatan jumlah penangkapan para pemakai, pecandu, pengedar, maupun bandar narkoba. Banyaknya kasus narkoba yang terungkap justru mengindikasikan jumlah penyalahgunaannya yang tinggi, yang menuntut kerja keras seluruh elemen. Upaya pencegahan memang bisa menjadi win-win solution atas deadlocknya berbagai usaha pemerintah dan masyarakat untuk memberangus narkoba. Dengan catatan, upaya pencegahan tersebut, tersinergi secara sistemik yang mampu menciptakan kewaspadaan bersama terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkoba, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan perguruan tinggi, masyarakat, apparat, hingga BNN tingkat daerah hingga pusat, serta dipayungi oleh kebijakan hukum yang jelas dan mengikat.

Akhirnya, dengan peristiwa penangkapan pembawa dan pengedar sabu di Bandara Syamsudin Noor, bisa menjadi warning bagi semua pihak, khususnya warga Banua untuk menguatkan komitmen, bahu-membahu dalam membangun generasi bangsa terbebas dari ancaman narkoba, mulai dari lingkungan keluarga sebagai pondasi utama membentuk karakter, lingkungan pendidikan sebagai sarana membangun intelektual yang santun dan berkarakter, serta lingkungan masyarakat sebagai tempat berinteraksi dan bersosialisasi yang dibalut kepedulian dan kepekaan antarsesama, guna menciptakan lingkungan bersih narkoba. Semoga. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved