Berita Regional

Sekarang Khataman Bareng Sekarang Bisa Lewat Ponsel Lho!

Kali ini, mereka menghadirkan aplikasi di gadget yang memungkinkan orang-orang berbeda lokasi menggelar khataman bersama.

Sekarang Khataman Bareng Sekarang Bisa Lewat Ponsel Lho!
Dok Nusantara Mengaji
Khataman akbar berlangsung di Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (30/10/2016). Kegiatan tak hanya berpusat di satu lokasi, tetapi juga serentak berlangsung di 200 lokasi di 56 kelurahan dari 12 kecamatan di Kota Bekasi. Pada hari yang sama diluncurkan pula aplikasi online khataman, serta penyerahan beasiswa untuk para hafidz dan infak sejuta Alquran. 

Peluncuran aplikasi ini diumumkan berbarengan dengan acara khataman akbar yang digelar di Bekasi, Minggu. Khataman tidak berpusat di satu lokasi saja, tetapi juga berlangsung serentak di 200 lokasi di 56 kelurahan dari 12 kecamatan di Kota Bekasi.

Dalam acara tersebut, diserahkan pula beasiswa untuk 20 hafidz—penghafal 30 juz Alquran—dan infak sejuta Alquran.

Inisiator Nusantara Mengaji Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan, wajah Islam Indonesia seharusnya menjadi teladan sebagai umat terbesar dan terbaik di dunia.

Kunci untuk mewujudkan hal itu, ujar Muhaimin, adalah pada kecintaan setiap muslim pada agama dan Alquran. “Khususnya mencintai, menghafalkan, dan mengamalkan kitab suci tersebut,” ujar dia di Bekasi, Minggu.

Karenanya, Muhaimin mengajak umat Islam menjadikan Alquran sebagai pegangan dan pedoman menjalani tantantangan dan kehidupan. Ini penting, kata dia, agar bangsa Indonesia mampu bersaing dengan negara mana pun tetapi tetap berpijak pada Islam dan Alquran.

Menurut Muhaimin, akar spiritualitas tak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi, ujar dia, seluruh model kemajuan negara mana pun saat ini tengah mengalami krisis.

Pada akhirnya, tegas dia, kekuatan lahir batin dari setiap individu di dalam negara itu lah yang akan mengatasi krisis ini. “Kita harus siapkan generasi tangguh dan tetap memiliki spirit Alquran yang mengakar,” ujar Muhaimin.

Khataman akbar di Bekasi juga masih menjadi rangkaian dari peringatan Hari Santri yang ditetapkan Pemerintah diperingati setiap 22 Oktober. Muhaimin pun menyinggung kembali sejarah panjang peran para santri dalam sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Salah satu bagian dari sejarah perjuangan merebut kemerdekaan, ungkap Muhaimin, adalah dicetuskannya Resolusi Jihad dalam pertemuan Soekarno—yang kemudian menjadi Presiden pertama Indonesia—dan KH Hasyim Asy'ari.

Resolusi itu menjadi jawaban atas kebutuhan pasukan yang solid untuk melawan pasukan penjajah. "Santri diikatkan satu komando, angkat senjata, dan tak boleh lari dari perang,” ujar Muhaimin.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved