Saham Bank Mandiri Naik Menjadi 59,44 Persen di Bank Mantap

Pada tahap pertama, Bank Mantap menerbitkan 249 juta lembar saham baru dengan nilai sekitar Rp 400 miliar.

Saham Bank Mandiri Naik Menjadi 59,44 Persen di Bank Mantap
Tribun Bali
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa PT Bank Mandiri, Taspen, Pos (Mantap), di Sheraton, Kuta, Badung, Senin (31/10/2016). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MANGUPURA - PT Bank Mandiri, Taspen, Pos (Mantap) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa, guna merealisasikan right issue tahap pertama yang akan diambil bagian oleh pemegang saham eksisting perseroan.

Pada tahap pertama, Bank Mantap menerbitkan 249 juta lembar saham baru dengan nilai sekitar Rp 400 miliar.

Direktur Utama PT Bank Mandiri, Taspen, Pos (Mantap), Nixon LP Napitupulu, menjelaskan penambahan modal atau right issue ini direncanakan dalam dua tahap, pertama pada tahun 2016 sebesar Rp 400 miliar dan 2017 sebesar Rp 200 miliar.

“Ini karena kami memiliki proyeksi bisnis lebih cepat dari stakeholder agreement ketika bank ini disusun. Artinya kami tumbuh jauh lebih tinggi daripada proyeksi di awal. Sehingga kebutuhan modalnya meningkat, dibandingkan ketika membuat proyeksi awal,” cetusnya usai RUPS Luar Biasa di Sheraton, Kuta, Badung, Senin (31/10/2016).

Pasalnya, apabila tidak ada penambahan modal di akhir tahun depan, maka capital adequancy ratio (CAR) Bank Mantap bisa turun dan berpotensi di bawah ketentuan CAR yang berlaku, sehingga diperlukan penambahan modal.

Lanjutnya, pesatnya pertumbuhan Bank Mantap tercermin dari penyaluran kredit yang mencapai Rp 3,9 triliun atau naik 150 persen pada pertengahan 2016 dari semester sebelumnya.

Dengan total aset hingga November 2016 mencapai Rp 5,66 triliun, tumbuh 119,6 persen. Sementara dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 4,76 triliun tumbuh 198,6 persen.

Percepatan juga terlihat dari rencana pengembangan jaringan kantor, yang diproyeksikan mencapai 200 kantor hingga 2020, dari 126 kantor yang tersebar di wilayah Indonesia.

“Nah sesuai peraturan otoritas jasa keuangan (POJK) tentang modal inti. Maka pengembangan jaringan kantor ini berkaitan dengan alokasi modal inti (AMI). Sebab kami menghitung kalau tidak ditambah modal intinya maka akan defisit hingga Rp 1,2 triliun,” jelasnya.

Kemudian, rasio KPMM (CAR) juga akan mengalami sedikit tekanan di akhir tahun 2016 menjadi 17 persen, apabila tidak ada tambahan modal.

Halaman
1234
Editor: Yamani Ramlan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help