Serambi Ummah

Makanan Thayyiban Tetap Perlu Branding Halal

Sejumlah konsumen menyatakan yakin, khususnya di Kota Banjarmasin kalau makanan yang disajikan di kedai atau rumah makan itu, dijamin kehalalannya.

Makanan Thayyiban Tetap Perlu Branding Halal
Serambiumah.com
Cover Hal 1 Serambi Ummah, Jumat (4 November 2016) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - DI negeri berpenduduk mayoritas muslim, masih perlukan label halal brending pada setiap makanan yang diperjualbelikan? Boleh jadi itukah pertanyaan di benak banyak produsen, khususnya berskala kecil hingga mengabaikannya.

Ketika kita memasuki rumah makan, kedai atau restoran sangat jarang terlihat dinding yang dihiasi gantungan pigura selembar sertifikat label halal yang dikeluarkan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia atau yang dikenal sebagai LPPOM MUI.

Tanpa brending label halal itu, benarkah komsumen sudah yakin makanan yang mereka pesan dijamin sudah baik dan halalan tayyiban (halal lagi pula baik)?

Sejumlah konsumen menyatakan yakin, khususnya di Kota Banjarmasin kalau makanan yang disajikan di kedai atau rumah makan itu, dijamin kehalalannya.

“Kecuali kelas restoran yaa, saya masih agak ragu paling tidak cara memasaknya bisa menggunakan arak atau penyedap yang belum dijamin kehalalannya. Kalau di rumah makan dan warung-warung sih rasanya aman,” ujar Nugie, seorang wirausaha yang mengaku pecinta kuliner.

Apalagi, menurutnya, di kedai-kedai makanan yang menjual menu khas Banjar dengan sajian masakan tradisional, yakin saja segala bahan campurannya adalah sayur mayur, ikan serta bumbu-bumbu yang tidak menabrak syarat halal.

Cover Serambi Ummah
Cover Hal 1 Serambi Ummah Edisi Jumat (4/11/2016)

Namun, sejumlah mahasiswa kos yang sehari-hari menjadi konsumem warung makan menyatakan tetap saja diperlukan label halal untuk lebih memantapkan keyakinan.

"Tetap lah perlu," ujar Nor Fikriah yang diamini rekan-rekannya.

Sementara dari kalangan produsen banyak merasa tanpa label halal, mereka konsisten menjual makanan yang halal.

“Sejak merintis usaha makanan belasan tahun lalu, kami belum pernah mengurus label halal ke pihak LPPOM MUI, tetapi apa yang kami sajikan kepada konsumen insya Allah seratus persen menggunakan bahan-bahan alami yang halal,” ujar Lia, pengusaha makanan di Kota Banjarmasin.

Selama ini pula, menurut dia, tidak pernah ada yang mempersoalkan, apalagi usaha yang dirintisnya merupakan bisnis keluarga yang sudah tiga generasi.

“Tetapi kami berniat akan mendaftarkan juga, agar konsumen lebih mantap apalagi sekarang sudah ada beberapa rumah makan yang memajang sertifikat halal di dinding ruang makan pembeli. Menurut saya ini untuk memantapkan,” ujar dia.

Hanya saja, dia mengaku tidak tahu harus kemana dan bagaimana cara mendaftarkan usahanya, agar berlebel halal.

“Terus terang selain belum merasa terdesak untuk itu, kami juga tidak tahu bagaimana prosesnya,” ujar dia lagi.
Kondisi seperti ini, diakui Direktur LPPOM MUI Kalsel Udiantoro.

“Masih belum dianggap sebagai keperluan bisnis oleh produsen,” ujar Udiantoro. (uum)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help