Dongkrak Bakul

PEMKO Banjarmasin menunjukkan keseriusannya dalam upaya menekan produksi sampah plastik. Setelah mengeluarkan kebijakan yang melarang

Dongkrak Bakul
BPost Cetak
Ilustrasi 

PEMKO Banjarmasin menunjukkan keseriusannya dalam upaya menekan produksi sampah plastik. Setelah mengeluarkan kebijakan yang melarang penggunaan kantong plastik di ritel dan pasar, Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin kini sudah memikirkan akan menerapkan kebijakan yang sama untuk para pedagang di pasar tradisional.

Ini, seiring dengan program yang akan diluncurkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemenlhk).

Bedanya, yang akan diterapkan Kemenlhk adalah kebijakan kantong plastik berbayar di ritel dan pasar tradisional. Kebijakan tersebut masih dalam pembahasan dan akan diluncurkan beberapa waktu ke depan.

Terkait rencana kebijakan larangan penggunaan kantong plastik di pasar tradisional di Banjarmasin, permasalahan yang muncul, saat ini para pedagang tradisional kebingungan jika kebijakan tersebut segera diberlakukan. Timbul kekhawatiran, pelanggan mereka akan pergi gara-gara tak disediakan kantong plastik.

Sementara, tradisi warga berbelanja ke pasar membawa bakul atau wadah sejenis dari rumah saat ini sudah sangat terkikis.

Intinya, pedagang pasar tradisional saat ini masih belum siap untuk menerapkan larangan penggunaan kantong plastik. Jadi, perlu waktu dan proses untuk penerapannya.

Terkait masalah ini, ada beberapa langkah yang mungkin bisa mendukung program pemerintah untuk meminimalisasi penggunaan kantong plastik di pasar tradisional agar produksi sampah plastik bisa ditekan.

Pertama, menggalakkan penggunaan kantong plastik ramah lingkungan, yang terbuat dari bahan yang mudah terurai.

Yang kedua, kembali menghidupkan tradisi masyarakat berbelanja khususnya ke pasar tradisional menggunakan bakul purun seperti zaman dulu.

Dari sudut pandang sosial budaya, langkah yang kedua ini cukup menarik. Ibarat memancing, bisa dapat dua ikan sekaligus jika itu bisa diterapkan.

Ya, jika tradisi berbelanja menggunakan bakul bisa ‘didongkrak’ kembali dan dihidupkan, setidaknya para pedagang tidak perlu lagi menyiapkan kantong plastik untuk para pelanggannya. Otomatis, penggunaan kantong plastik menjadi berkurang dan produksi sampah plastik pun bisa ditekan.

Keuntungan lainnya, jika penggunaan bakul ini kembali menjadi tradisi, akan berdampak positif pada sektor UMKM yang memproduksi kerajinan bakul purun.

Karena, secara otomatis, jika tradisi itu bisa dihidupkan kembali, permintaan masyarakat akan bakul menjadi meningkat. Bisa dipastikan, ini akan mendongkrak penghasilan para perajin bakul, khususnya di Banua.

Dari sini, pemerintah pun bisa mendongkrak sektor UMKM, khususnya para perajin bakul purun agar bisa menggeliat dan terus berproduksi secara berkesinambungan.

Nah, jika dua langkah tersebut bisa digalakkan dan dijalankan masyarakat dengan mulus, keluarnya kebijakan larangan penggunaan kantong plastik di pasar tradisional nanti, sepertinya tidak akan menuai masalah. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help