Serambi Ummah

Investasi Bodong Tak Pernah Mati, Pelaku Dihukum Kerugian Nasabah Tak Terbayar

Bagai tak mengenal jera, masyarakat pemilik modal mudah menyerahkan asetnya ke pengelola bisnis investasi bodong ini dengan iming-iming keuntungan.

Investasi Bodong Tak Pernah Mati, Pelaku Dihukum Kerugian Nasabah Tak Terbayar
Serambiummah.com
Cover Serambi Ummah Edisi (11/11/2016) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bisnis voucher dan berlian Lihan, adalah contoh kasus bisnis investasi bodong yang pernah mengguncang perekonomian masyarakat Kalimantan Selatan dan berakhir deraian air mata para nasabah: Diperkirakan ratusan miliar dana mereka tak kembali!

Kedua bisnis ini harus pula berujung tragis, masing-masing bos pengelola berikut orang dekatnya harus mendekam dalam penjara akibat terjerat ‘pasal’ penipuan masal dan pengumpulan dana masyarakat secara ilegal.

Didahului kasus inevestasi bodong berkedok penjaualan voucher sekitar 2003, tatkala masyarakat tengah booming telepon genggam yang memerlukan voucher sebagai ‘bensinnya’.

Bisnis ini langsung mendapat respons hangat, bukan hanya di kalangan masyarakat berduit untuk menanamkan investasinya. Iming-iming keuntungan sampai 20 persen per bulan, cepat menjadi wabah.

“Bukan hanya orang berduit yang menanamkan invesatasinya tetapi juga yang pas-pasan dengan cara menguras tabungan di bank untuk diinves ke voucher. Ini yang dialami orangtua saya.

Cover Serambi Ummah 11/11

Bahkan ada juga yang meminjam dana di bank dengan jaminan rumah juga untuk investasi.

Ternyata uang tidak kembali, kalaupun ada sangat kecil,” tutur Adi, warga Kota Banjarmasin yang punya catatan pahit dengan bisnis investasi bodong ini.

Penipuan ini memang tidak berlangsung lama, memasuki tahun kedua kejahatannya terbongkar. Para penggeraknya kocar kacir melarikan diri namun si bos besar berhasil diringkus aparat.

Tragisnya menjelang proses mengadilan sang bos ditemukan tewas dalam tahanan dengan dugaan bunuh diri.

Anehnya, masyarakat tidak jera dengan penipuan investasi bodong ini, selang sekitar tujuh tahun, muncul modus sama namun dengan kemasan beda. Seorang yang mengaku pengusaha intan asal Desa Cindai Alus Martapura, menjalankan bisnis serupa dengan iming-iming investasi untuk binis berlian. Jumlah dana yang terhimpun dari masyarakat konon lebih besar dibanding kasus voucher.

Juga memasuki tahun kedua bisnisnya, Lihan sang bos digiring ke penjara. Pada pengadilan yang berlangsung sekitar 2010, Lihan divonis sembilan tahun penjara dan kini tengah menjalani bebas bersyarat, dia memutuskan pindah ke kawasan Jawa Barat.

Kini, seperti dikutip dari Liputan6.com Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing, mencatat di Indonesia ada tiga perusahaan sejenis yang dinyatakan bermasalah seperti tersebut adalah PT Cakrabuana Sukses Indonesia (PT CSI) dan Dream For Freedom dan United Nations Swissindo World Trust International Orbit (UN Swissindo).

“Tetapi kalau di Kalsel yang terakhir laporan masuk ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalsel, adalah kasus Dream for Freedom itu,” ujar Kepala OJK Kalsel Agus Priyanto.

Bagai tak mengenal jera, masyarakat pemilik modal mudah menyerahkan asetnya ke pengelola bisnis investasi bodong ini dengan iming-iming keuntungan yang fantastis, sehingga penipuan berkedok investasi ini tak pernah mati walau selalu berujung pada proses hukum bagi pelakunya dan kerugian bagi nasabahnya.

“Inilah sepak terjang mereka, menggunakan iming-iming keuntungan tinggi di atas rata-rata perbankan, sehingga masyarakat mudah tertarik mengalahkan imbauan pihak berwenang,” ujar Agus menanggapi mengapa bisnis penipuan ini tetap mendapat kepercayaan masyarakat pemilik dana. (uum)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved