Inilah Pijatan yang Salah pada Bayi Berisiko Kematian

“Yang paling sering terjadi ialah pendarahan otak akibat pemijatan terlalu keras di area kepala. Padahal kepala menjadi salah satu bagian dari bayi

Inilah Pijatan yang Salah pada Bayi Berisiko Kematian
thinkstock
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Direktur Pelayanan Medis, Penunjang Medis dan Keperawatan Rumah Sakit Akademik UGM, Sunartini Hapsara, mengatakan pijat bayi pada dasarnya baik untuk kesehatan bayi asalkan pelaksanaannya sesuai dengan cara yang benar.

Pijatan pada bayi dapat dijadikan sebagai rangsangan agar tumbuh kembang bayi lebih optimal.

Namun kesalahan sedikit saat pemijatan, bisa menghilangkan nyawa sang bayi.

“Yang paling sering terjadi ialah pendarahan otak akibat pemijatan terlalu keras di area kepala. Padahal kepala menjadi salah satu bagian dari bayi yang tidak boleh dipijat,” kata Sunartini.

“Yang paling sering terjadi ialah pendarahan otak akibat pemijatan terlalu keras di area kepala.Padahal kepala menjadi salah satu bagian dari bayi yang tidak boleh dipijat.”

Sunartini mengungkapkan, kepala dan perut merupakan bagian yang sama sekali tidak boleh dipijat.

Pasalnya angka kematian bayi akibat kesalahan pemijatan yang pernah ditangani oleh RSUP Dr Sardjito Yogyakarta mencapai 4–5 dalam setahun.

Dan setiap tahunnya rata-rata ada 10 bayi mengalami pendarahan otak dan organ bagian dalam perut yang mengalami kelainan.

Setelah ditelusuri, rata-rata akibat bayi yang dipijat dengan cara tidak benar.

Bagian tubuh lain yang sebaiknya mendapat sentuhan pemijatan ialah wajah.

Hal tersebut dilakukan untuk merangsang otot-otot mengunyah dan menelan sang bayi.Ini juga merupakan solusi bagi bayi yang sulit makan.

“Intinya, pijat bayi sekali lagi hanya stimulan dengan cara diusap-usap,” katanya.

Ia melanjutkan, gejala awal yang bisa dideteksi ketika bayi mengalami kesalahan dalam pemijatan adalah kejang, bisa tidak sadarkan diri, dan seluruh bagian badan kaku.

Jika kondisi ini tidak segera mendapatkan pertolongan,sang bayi bisa meninggal atau dapat mengalami kelumpuhan dan gangguan perkembangan otak pada awal pertumbuhan bayi. (national geographic)

Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved