Health Info

Galau Cinta, Masalah Sepele yang Betul-betul Merusak

Tapi yang ini tidak biasa. Anak tadi mengalami kejutan mental yang luar biasa. Ia kemudian menjadi kehilangan semua kecemerlangannya

Galau Cinta, Masalah Sepele yang Betul-betul Merusak
net
ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Bagi yang tidak merasakan, mungkin galau cinta bisa dianggap sekedar bahan untuk bercanda atau ejek-ejekan. Tapi masalah sepele ini bisa betul-betul merusak. Pendidikan terhadap anak-anak, bimbingan terhadap remaja, harus turut memperhatikan soal ini.

Ada beberapa kejadian fatal yang pernah saya lihat, soal asmara ini. Ada anak yang sangat cerdas dan cemerlang. Ia kuliah di jurusan bergengsi di sebuah perguruan tinggi ternama. Tentu orangtuanya bangga padanya.

Tapi pada suatu masa, anak itu jatuh cinta pada salah satu teman kuliahnya. Soal biasa, bukan? Soal biasa pula, cintanya ternyata ditolak. Biasanya ini hanya akan jadi cerita galau singkat, yang kelak jadi bahan olok-olok antar teman.

Tapi yang ini tidak biasa. Anak tadi mengalami kejutan mental yang luar biasa. Ia kemudian menjadi kehilangan semua kecemerlangannya. Ia tak lagi kuliah, mengunci diri di kamar. Kemudian mulai bicara sendiri. Saya menyaksikan sendiri keadaannya, setelah ia parah. Bahkan, kabarnya ia pergi dari rumah, tak tahu sekarang berada di mana.

Bukan sedikit contoh yang demikian itu. Pernah pula saya menyaksikan seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang pemuda, tapi ia bertepuk sebelah tangan. Akhirnya, ia pun menderita sakit jiwa.

Kalau pun tidak sampai gila, tidak sedikit remaja yang mengalami perubahan perilaku akibat asmara. Ada yang tadinya pendiam, tiba-tiba menjadi beringas. Ada pula yang sebaliknya, dari anak yang aktif dan ceria, tiba-tiba menjadi pendiam. Tidak sedikit yang merosot prestasi belajarnya gara-gara ini.

Apa masalahnya sehingga hal yang seharusnya sepele itu bisa demikian fatal? Bagi saya, mental itu sama dengan fisik. Fisik kita, sekali kena penyakit, akan menderita. Tapi dengan itu ia membangun ketangguhannya sendiri.

Karena itu, anak sakit, itu soal biasa saja. Kuatkan tubuhnya, agar dia sembuh. Dia akan jadi lebih kuat.

Soal mental juga begitu. Anak-anak harus terbiasa gagal, atau tidak tercapai keinginannya. Ia harus belajar menerima, bahwa tak semua keinginan akan tercapai. Atau, lebih tajam lagi, ada keinginan yang harus diusahakan berulang-ulang, baru bisa tercapai.

Bagaimana cara mengajarkan hal itu pada anak? Pertama, jangan biasakan menuruti semua keinginannya. Penuhi permintaan anak berbasis pada kebutuhan. Meski kita bisa, kita mampu, tidak semua keinginan anak harus dituruti.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved