Home »

Kolom

» Tajuk

Diplomasi Meja Makan

Melihat raut wajah semringah saat berada di teras istana, bisa disebut ‘persoalan bangsa’ yang sedang mereka bicarakan adalah upaya-upaya

Diplomasi Meja Makan
BPost Cetak
Ilustrasi 

JELANG aksi 4 November hingga menjelang ‘gawe’ 2 Desember, Presiden Republik Indonesia sangatlah rajin bertemu sejumlah pimpinan partai politik dan ormas. Sebagian besar pertemuan itu dilakukan di meja makan istana.

Entah apa yang dibicarakan secara detail di meja makan. Yang jelas mereka yang telah bertemu terlihat semringah dan melempar senyum saat duduk di kursi teras istana sambil menyapa wartawan.

Dalam beberapa kali kesempatan minum teh di teras istana (setelah makan siang), baik ketua partai maupun Jokowi selalu mengaku tidak membahas soal kepentingan partai, tapi membicarakan banyak hal terkait bangsa.

Melihat raut wajah semringah saat berada di teras istana, bisa disebut ‘persoalan bangsa’ yang sedang mereka bicarakan adalah upaya-upaya untuk mendinginkan suasana. Situasi yang dalam dua bulan terakhir ini terasa pengap, lantaran perguliran dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang diembel-embeli kabar makar dan embusan ancaman disintegrasi bangsa.

Ya, semoga saja benar. Semoga saja tokoh-tokoh bangsa itu benar-benar siap bahu-membahu dengan pemerintah (Jokowi), agar konsentrasi negeri ini lebih pada upaya membangun fisik dan mental bangsa, dan tidak kehabisan energi untuk menyelesaikan persoalan kepengapan.

Semoga saja diplomasi meja makan istana itu benar-benar sesukses Jokowi saat menaklukkan pedagang kaki lima (PKL) Banjarsari, Kota Solo. Saat itu, 989 PKL secara sukarela mau direlokasi setelah ngobrol di meja makan.

Memang, urusan PKL Banjarsari tidaklah serumit kepengapan yang tengah berlangsung. Urusan pedagang di Solo hanyalah soal ratusan orang atau ribuan perut (bila dikalkulasi dengan anggota keluarga PKL). Sedangkan suasana yang kali ini berlangsung melibatkan ratusan ribu atau bahkan jutaan orang di negeri ini.

Karena skala persoalan kali ini jauh (bahkan sangat jauh) lebih besar dari masalah PKL Banjarsari, penyelesaiannya pun tidaklah bakal tuntas hanya dengan sekali makan siang. Bila persoalan relokasi di Solo butuh 53 kali makan siang, bisa jadi Jokowi juga perlu energi lebih besar dari itu untuk mengademkan suasana.

Tentu, kali ini Jokowi tidak perlu mengajak makan siang para ketua partai hingga 53 kali. Tapi, seluruh organ politik presiden perlu melanjutkan pertemuan tersebut dengan kalangan ormas, partai dan elemen bangsa lainnya.

Karena diplomasi meja makan lanjutan butuh pelibatan banyak organ, yang perlu dipastikan oleh Jokowi adalah, memastikan semua pihak untuk tidak menjadikan meja makan-meja makan di banyak tempat itu sebagai panggung politik pribadi atau golongan.

Semua meja yang dibuka, haruslah menjadi banggung bersama untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Dengan demikian, seluruh anak bangsa akan lahap menikmati makan siang.

Selamat makan siang. (*)

Ikuti kami di
Editor: BPost Online
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help