Banjarmasin Post Edisi Cetak

Fauziah Harus Mengepel Ruangan Rumah Adat Banjar Setelah Hujan

Teluk Selong memang kaya cagar budaya. Di sana terdapat beberapa rumah khas Banjar yang berusia lebih dari seabad.

Fauziah Harus Mengepel Ruangan Rumah Adat Banjar Setelah Hujan
banjarmasinpost.co.id
Cover Banjarmasin Post Edisi Selasa (6/12/2016) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Aisyah begitu antusias saat memasuki Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi di Desa Teluk Selong RT 3 Kecamatan Martapura Barat Kabupaten Banjar, Minggu (4/12) siang. Dia memasuki satu per satu ruangan dan mengamati sekelilingnya.

Beberapa kali Aisyah bersama tiga temannya mengabadikan keberadaan mereka di dalam rumah tersebut. Kendati sering mendatangi rumah tersebut, Aisyah baru kali pertama memasukinya.

“Soalnya beberapa kali ke sini saya lihat pintunya terkunci. Jadi saya dan teman-teman kira di dalam tidak ada orang,” ujarnya.

Walau pun senang melihat langsung dan bisa berfoto di dalam rumah adat Banjar itu, dia agak prihatin terhadap kondisi bangunan terutama atapnya yang banyak bocor. Demikian pula pagarnya yang banyak lepas.

“Bangunan ini seolah tidak mendapatkan perhatian. Padahalkan salah satu cagar budaya,” ungkapnya.

Teluk Selong memang kaya cagar budaya. Di sana terdapat beberapa rumah khas Banjar yang berusia lebih dari seabad. Satu di antarannya ditempati Fauziah. Dia adalah generasi keempat pemilik rumah adat Banjar Bubungan tinggi dan Gajah Baliku itu.

Dia memang kerap mengunci rumah mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Itu karena setahunlalu ada penutup guci dari kuningan yang hilang. Kemudian beberapa kali ada sejumlah pemuda ngelem di rumah tersebut. “Beberapa hari lalu bahkan ada orang gila ikut masuk kemudian mengejar saya,” ujarnya.

Namun demikian bukan berarti dia tak mau ada orang berkunjung. Fauziah pun berusaha mendampingi untuk memberikan penjelasan. Untuk itu dia tidak mematok tarif. “Kami tidak mematok biaya melainkan hanya sumbangan sekadarnya untuk listrik dan air minum,” jelasnya.

Fauziah tidak menampik kondisi bangunan yang ditempatinya berangsur rusak. Setiap hujan deras, dia harus mengepel lantai lantaran basah. Itu terjadi seperti di ruang utama, kamar tidur dan dapur.

Besar harapannya, atap rumah bubungan tinggi dan gajah baliku mendapat perbaikan dari pemerintah sehingga menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. “Sejauh ini, baru sekali direnovasi yakni sekitar 1993. Walau pernah direnovasi, bangunan yang berdiri sejak 1811 ini, berikut beberapa perabotnya tidak pernah berubah,” jelasnya.

Dia pun menceritakan bangunan tersebut dibangun nenek moyangnya, HM Arif dan Hj Fatimah, yang merupakan saudagar kaya. Mengingat menyerupai bangunan kerajaan, tak jarang masyarakat mengira peninggalan kerajaan Banjar. “Semasa hidup, datuk saya beramanah agar rumah ini jangan dijual dan diubah,” jelasnya.

Oleh karena keasliannya pula, banyak wisatawan lokal hingga mancanegara bertandang ke bangunan yang sudah berstatus cagar budaya Kalsel itu. “Dalam sebulan sekitar 200 orang berkunjung di tempat ini, tutup Fauziah.

Selain berkunjung dan ingin mengetahui sejarah bangunan tersebut, ada juga pengunjung yang meminta izin melakukan sesi foto pre wedding.

“Biasanya mereka berfoto di tempat tidur adat Banjar, di dekat perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari kuningan dan piring malawen yang usianya sama dengan rumah ini,” terang Fauziah. (gha)

Baca Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Selasa (6/12/2016)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved