Seputar Kalimantan

Rekening Bank Dibobol, Ini Kata OJK Kalbar

Sejauh ini ia mengetahui 7 nasabah rekening tabungannya berkurang tanpa mereka melakukan penarikan.

Rekening Bank Dibobol, Ini Kata OJK Kalbar
shutterstock
ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PONTIANAK - Menanggapi raibnya dana nasabah di rekening tabungan tanpa nasabah melakukan transaksi Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Kalimantan Barat (Kalbar), Asep Ruswandi meminta semua termasuk media bersabar menunggu proses dari BNI.

Hal tersebut dikarenakan kata Asep, setelah diketahui hasilnya tidak bisa langsung disimpulkan.

Makanya kata Asep tidak bisa dikatakan nasabah adalah korban karena yang menjadi korban sesungguhnya adalah bank. Pihaknya juga belum berani berkomentar banyak lantaran harus menunggu laporan lanjutan dari BNI.

Sejauh ini ia mengetahui 7 nasabah rekening tabungannya berkurang tanpa mereka melakukan penarikan.

Namun kata Asep, penarikan tabungan tanpa melalui teller akan tercatat sistem.

"Kapan dan dimana akan tercatat. Hasil identifikasi awal penarikan menggunakan ATM berlogo cirrus. Logo ini jaringan internasional tersebar di luar negeri dan jumlah penarikannya juga terdapat pecahan kecil diluar ATM di Indonesia biasanya. Makanya biarkan BNI bekerja dulu," ujar Asep kepada tribun di kantornya pada Selasa, (6/12/2016).

Asep mengatakan jika dilihat pelakunya banyak dan banyak kemungkinan bisa terjadi. Pertama ia mengatakan pembobolan bisa saja dilakukan oleh perorangan atau kelompok dan murni tanpa kaitan dengan bank.

Bisa jadi juga pembobolan dilakukan oleh orang yang pernah bekerja di bank tersebut dan ketiga juga bisa dilakukan orang dalam.

"Makanya BNI harus bergerak cepat, saya minta dahulukan penelitian ada tidaknya orang dalam terlibat. Indikasi kemarin tidak ada orang dalam terlibat. Berkembangnya kita belum mengetahui. Harus didahulukan apakah nasabah lalai atau tidak, karena jika disimpulkan tidak karena kelalaian nasabah bank harus secepatnya mengganti dana nasabah," ujar Asep.

Nasabah kata Asep hanya sebagai sarana pembobol mengambil sejumlah uang bank. Namun dalam hal ini korban sesungguhnya ia katakan adalah bank.

Apalagi jika tidak adanya kelalaian dari nasabah bank bertanggungjawab sepenuhnya mengganti dana nasabah secepatnya. Terjadinya pembobolan pada BRI dan BNI kata Asep juga tidak bisa disimpulkan karena sistem yang lemah.

"Bank yang menjadi korban, uang bank yang di bobol. Nasabah tetap akan dilakukan penggantian, tetapi memang masyarakat dalam hal ini nasabah korban waktu mengurus hal ini. Bank juga harus meneliti ada tidaknya transaksi yang sama karena tidak semua nasabah mengetahui jika saldinya berkurang tanpa mengecek dan menggunakan sms banking," ujar Asep.

Setelah mengecek keseluruhan kata Asep, bank juga harus memutus mata rantai data yang sudah te record oleh pelaku. Bank bisa bekerjasama dengan menghubungi nasabah untuk mengganti rekening dan kartunya.

"Selanjutnya kita meminta nasabah menjaga pin, mengganti pin periodik dan jangan melakukan transaksi online jika dirasakan kurang aman. Karena data yang dikirim via email dan lain-lain bisa saja bocor," ujar Asep.

Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved