NEWSVIDEO

Wahyu Bercita Cita Menjadi Pecatur Nasional

WAHYU (21) dengan cekatan memegang bidak catur dengan kedua belah tangannya serta memindahkannya ke posisi yang diinginkannya.

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - WAHYU (21) dengan cekatan memegang bidak catur dengan kedua belah tangannya serta memindahkannya ke posisi yang diinginkannya. Sesekali, Dia pun mempertanyakan langkah lawannya bermain catur Ahmad Naizulah (14).

"Wah, ini kuda dibarikan ajakah," ujar Wahyu menyindir langkah juniornya yang dianggapnya memudahkannya untuk mengalahkan lawannya.

Meski menyandang disabilitas tunanetra, namun Wahyu demikian mengetahui posisi bidak catur yang dipindahkan lawannya seolah kedua belah matanya normal. Begitu pula, tangannya bergerak cepat memindahkan bidak catur ke kotak yang diinginkannya.

Tidak heran, karena permainan catur telah menjadi "makanan" sehari-hari penghuni Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Fajar Harapan Martapura. Bahkan, Wahyu yang kini duduk di kelas XII SMALB PSBN Fajar Harapan ini bukanlah pecatur kacangan.

Dia adalah peraih medali emas pada pekan olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di Jakarta Juli lalu. Digelaran O2SN itu, Dia harus mengalahkan puluhan pecatur tangguh dari beberapa provinsi.

Menurut Wahyu, sebenarnya awalnya dia tidak begitu tertarik dengan permainan catur. Padahal, ketika masih duduk di kelas 1 hingga kelas 3 SD matanya masih bisa melihat walaupun tidak begitu jauh. Pamannya, bahkan setiap hari bermain catur. Namun, permainan catur dianggapnya mononton dan menjenuhkan.

Ketertarikannya bermain catur saat putra bungsu pasangan H Abdul Malik dan Alm Siti Khadijah ini justru saat matanya tidak lagi bisa melihat dan harus menghuni PSBN Sungai Pering Martapura sekitar sepuluh tahun silam.

Itupun, baru 2008 silam Dia menekuni catur. Ketika itu, di PSBN Fajar Harapan dibuka pelatihan pemain pemula olahraga catur. Dulu awalnya, guru di PSBN Sukarno yang mengajarkan mengenalkan dasar-dasar bermain catur.

Setelah memahami dasar-dasarnya bermain catur, pemuda kelahiran Desa Angsana Tanah Bumbu 29 Agustus 1995 ini pun mulai tertarik dan tekun belajar dari senior yang sudah mahir bermain catur.

Dia pun, kemudian juga ikut sparing partner dan menjajal kemampuannya dengan ikut komba yang digelar Percasi Kota Banjarbaru di depan Kolam Renang Idaman, Banjarbaru. Meski belum menang, Wahyu semakin tertantang untuk mengasah kemampuannya.

Tahun 2009, Dia pun memulai mengikuti perlombaan catur di gelaran O2SN tingkat nasional mewakili Provinsi Kalsel. Saat itu, Dia hanya meraih urutan sembilan. Sejak itu, Wahyu pun terus mewakili Kalsel dalam gelaran O2SN mewakili Kalsel.

Tahun 2010, prestasinya meningkat hingga ke posisi lima besar berlanjut hingga di tahun 2015 lalu O2SN di Makasar meraih juara II dan akhirnya tahun ini Dia berhasil membawa pulang medali emas.

"Tahun ini saya benar-benar matang mempersiapkannya sejak awal Januari Dia sudah melakukan sparing partner, ikut liga catur provinsi Kalsel di Banjarbaru. Alhamdulillah, dengan persiapan yang lebih lama bisa meraih juara 1 nasional," katanya.

Dia sangat bersyukur, atas prestasinya di kejuaraan itu Dia juga diganjar hadiah sebesar Rp12 juta. Rencananya, dana tersebut digunakannya untuk biaya kuliah di PLB Unlam.

Setelah lulus SMALB, Wahyu tidak lagi bisa ikut gelaran O2SN. Namun, itu tidak mematahkan tekad Wahyu untuk menorehkan prestasi dari bidang catur. Dia ingin tetap mengikuti kejuaraan-kejuaraan nasional dafebel umum.

Bahkan, untuk ikut di kelas umum saat ini sangat memungkinkan. Saat ini, ketentuan lomba catur tidak lagi membatasi kaum difabel seperti dirinya untuk ikut kejuaraan catur orang yang normal. Karena itu, Dia akan terus berlatih dan mengasah kemampuannya bermain catur. Dia pun, bercita-cita menjadi seorang pecatur nasional.

"Untuk waktu dekat ini saya berharap bisa diikutkan dalam kejuaraan catur internasional. Itu tergantung, Indonesia kalau mau mengirim wakilnya ke kejuaraan Internasional," katanya.

Kepala PSBN Fajar Harapan Martapura, HM Nassir mengatakan, Wahyu memang memiliki semangat untuk berlatih catur. Tanpa ragu, Wahyu pun sering berangkat ke Percasi Banjarbaru di depan kolam renang untuk mencari sparing partner guna mengasah kemampuannya. Tanpa ragu,Dia juga belajar dengan seniornya.

Karena tekadnya untuk berlatih itulah, Wahyu mengharumkan PSBN Fajar Harapan dengan meraih juara 1 pada O2SN di Jakarta pada Juli 2016 lalu. "Setiap tahun Wahyu ikut O2SN. Dia tidak pernah patah arang walaupun tidak juara sampai tahun ini Dia berhasil meraihnya," terang Nassir bangga menceritakan prestasi anak didiknya itu.

Penulis: Hari Widodo
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved