Dukung Perang Besar terhadap Narkoba

Menarik membaca Tajuk BPost berjudul Narkoba dan Vonis Minimalis (19/12/2016), terutama di bagian penggalan kalimat yang berbunyi

Dukung Perang Besar terhadap Narkoba
BPost Cetak
Muhammad Gazali 

Oleh: Drs H Muhammad Gazali MPd
Penulis Buku Narkoba/Kepala SMAN 10 Banjarmasin

Menarik membaca Tajuk BPost berjudul Narkoba dan Vonis Minimalis (19/12/2016), terutama di bagian penggalan kalimat yang berbunyi “…narkotika sudah benar-benar menjadi public enemy di negeri ini”. Ungkapan tersebut seperti menegaskan kembali pernyataan Presiden Jokowi yang mengajak BNN dan semua pihak untuk perang besar terhadap narkoba, mengingat 15.000 generasi kita meninggal setiap tahun karena narkoba (6/12/2016).

Semua sepakat bahwa selama narkoba masih “eksis” di Indonesia, maka selama itu pula ancaman kesehatan masyarakat, rusaknya karakter bangsa, serta kecenderungan lemahnya daya saing bangsa, sulit dihilangkan. Berbagai upaya sekuat tenaga sudah dicoba, mulai dari membangun komitmen bersama dalam penyebarluasan informasi P4GN, kampanye Stop Narkoba ke dalam berbagai kegiatan, sampai ancaman hukuman mati bagi para bandar dan pengedar, tetapi tidak serta merta mampu menjadikan Indonesia bersih dan bebas narkoba.

Pendekatan Persuasif
Jika berbicara tentang narkoba itu berarti menyangkut aspek sensitifitas, terutama saat masuk ke permasalahan penyalahgunaannya. Begitupun dengan usaha pihak-pihak yang peduli dan concern akan dampak buruk jika sudah kecanduan narkoba, seperti BNN, BNNP, aktivis antinarkoba yang tak kenal lelah melakukan segala upaya dalam usaha memberantas narkoba.

Menilik data dan fakta tentang masih tingginya kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba serta kecenderungan meningkatnya pengguna dan penyalahguna narkoba, memunculkan pertanyaan, cara dan metode seperti apa lagi yang sekiranya ampuh untuk membasmi narkoba ?

Setidaknya ada empat strategi inovatif lawan narkoba, baik mencegah peredaran dan penyalahgunaannya maupun meminimalisasi bahkan memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

Pertama, memaksimalkan peran orangtua dalam keluarga sebagai pintu gerbang, apakah si anak terjaga untuk tidak mengonsumsi atau justru terjerumus dalam lingkaran hitam narkoba. Pihak yang memegang peran pertama dan utama dalam upaya pencegahan narkoba adalah orangtua dalam keluarga. Jadi, sebelum ke lingkungan pergaulan, bisa dikatakan bahwa cikal bakal pemakai narkoba bisa berawal dari orangtua, terutama orangtua yang lengah terhadap pendidikan anaknya, tidak punya waktu yang banyak untuk memberikan perhatikan dan kasih sayang, atau barangkali broken home, atau justru orangtua sendiri sebagai pengedar atau pengonsumsi.

Asumsinya, jika pendidikan dan penanaman karakter mental yang kuat diberikan orangtua di keluarga, maka perlu kiranya melakukan kontrol bagaimana pergaulan anak di lingkungan, baik di sekolah maupun masyarakat. Sinergi serta komunikasi yang cepat, tepat, dan akurat antara masyarakat dan aparat hukum, khususnya kepolisian (polda, polres, dan polsek) seyogianya dapat mengcover dimana linkungan-lingkungan yang disinyalir sebagai sarang basis narkoba.

Kedua, menelaah berbagai ironi tentang narkoba. Tidak sedikit orangtua yang sudah kehilangan akal dan cara untuk menasihati anak-anaknya agar tidak lagi mengonsumsi narkoba bahkan pasrah dan menyerahkan anaknya ke BNN/P atau polisi agar ditindak/dihukum. Disebut-sebut pendusta dan pencuri yang paling hebat itu adalah pecandu narkoba, karena menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang mulai dari menjual apa-apa yang dimiliki, mencuri, bahkan sampai merampok dan membunuh.

Sebenarnya program rehabilitasi baik sosial maupun medis, bisa menjadi solusi untuk sembuh dari kecanduan dan ketergantungan narkoba. Meluangkan waktu (quality time) untuk bercengkrama dengan anak, menanyakan keluh kesah anak dan masalah yang mungkin sedang dihadapi anak.

Ketiga, lebih proaktif dan mengedepankan pendekatan yang lebih persuasif dan manusiawi. Kinerja BNN/P dalam upaya memberantas narkoba memang patut diapresiasi, tetapi seyogianya bisa semakin proaktif terutama dalam usaha menemukan solusi yang mungkin bisa diterapkan untuk menekan peredaran narkoba baik yang datangnya dari sekolah maupun masyarakat.

Implementasi pendekatan persuasif yang lebih manusiawi, tergambar ketika kita hendak mengorek benar tidaknya seorang anak memakai narkoba, setelah tampak dari ciri-ciri fisik ada indikasi pemakai narkoba. Dengan pembuktian terbalik, yang justru pemakai akan mengaku dengan sendirinya karena ada garansi rahasia aman, dan dengan face to face serta hati ke hati. Pendekatan persuasif juga berpotensi atau memungkinkan terlacaknya pengedar dan bandar narkoba, akibat pengakuan pemakai.

Keempat, lebih mengefektifkan gerakan sosialisasi dampak dan bahaya narkoba. Sosialisasi tentang dampak dan bahaya narkoba hendaknya juga disisipkan di acara-acara arisan ibu-ibu atau bapak-bapak, kegiatan PKK, posyandu, rapat warga, maupun kegiatan keagamaan dengan intensitas sering, sehingga diharapkan lebih maksimal dan mampu menekan angka pemakai, penyalahguna narkoba.

Semakin beragamnya motif para pengedar, hendaknya juga menjadi catatan beberapa pihak terkait. Misalnya, motif pengedar yang mengemas narkoba dalam bentuk pulpen dan permen atau makanan lain, menjadi PR bagi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bekerja sama dengan yayasan perlindungan konsumen untuk lebih jeli dan teliti dalam menyeleksi, tidak hanya sebatas makanan/obat kedaluwarsa. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved