Ekonomi dan Keuangan

Bisnis Perkantoran Suram, Sektor Hunian Ada Harapan, Mungkinkah Faktor Kelebihan Pasokan

bisnis perkantoran menjadi lini properti yang loyo tahun depan. Hal ini karena terjadi kelebihan pasokan, khususnya di Jakarta

Bisnis Perkantoran Suram, Sektor Hunian Ada Harapan, Mungkinkah Faktor Kelebihan Pasokan
banjarmasinpost.co.id/kompas.com
Ilustrasi apartemen 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Beragam kebijakan pemerintah mempercepat pertumbuhan ekonomi memang berdampak positif bagi bisnis properti. Tapi, tak semua lini properti mampu menikmati stimulus tersebut.

Harun Hajadi, Managing Director Ciputra Group, bilang, bisnis perkantoran menjadi lini properti yang loyo tahun depan. Hal ini karena terjadi kelebihan pasokan, khususnya di Jakarta. "Kalau kelebihan pasokan, yield-nya jelek," kata Harun, kepada KONTAN, Selasa (13/12).

Sesuai logika ekonomi, ketika pasokan berlebih hukum pasar berlaku, cuan akan turun.

Tak hanya Harun, proyeksi lesu bisnis perkantoran tahun depan juga disampaikan Julius J Worouw, Direktur PT Sintesis Kreasi Utama. Menurut Julius, kelebihan pasokan perkantoran yang terjadi tahun ini akan berlanjut tahun depan.

Pendapat tak jauh berbeda juga disampaikan Panangian Simanungkalit, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI).

Lantas, investasi properti mana yang layak menjadi pilihan di tahun 2017? Dari beberapa sumber yang diwawancar, mayoritas menyarankan investasi rumah tapak. Salah satu alasannya adalah, rumah tapak memiliki tanah yang punya nilai ekonomi yang lebih nyata. "Tanah itu basis properti," kata Harun.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Theresia Rustandi Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk. "Tak hanya hunian, rumah banyak dicari untuk investasi," kata Theresia.

Setelah rumah, pertumbuhan apartemen juga berpeluang terjadi di tahun 2017. Theresia beralasan, apartemen sama dengan rumah, untuk hunian dan juga investasi. Namun, tak semua apartemen layak koleksi.

Panangian memproyeksikan, pertumbuhan apartemen hanya akan terjadi untuk apartemen di bawah harga Rp 1 miliar. Sedangkan apartemen di atas harga Rp 1 miliar diperkirakan akan stagnan dan sulit bertumbuh.

Setelah apartemen, ruko juga bisa menjadi pilihan properti tahun depan. Alasannya karena berbasis tanah. Bahkan, jika menemukan ruko dengan lokasi yang tepat, imbal hasilnya bisa lebih cepat dan lebih menguntungkan.

"Kenaikan harga ruko lebih cepat daripada rumah, walaupun jangka panjangnya perumahan tak kalah menguntungkan," imbuh Julius.

Adapun dari sisi lokasi, properti yang ada di wilayah Jabodetabek diproyeksikan masih menjadi primadona tahun depan. Panangian menjelaskan, permintaan properti di Jabodetabek sudah terbukti tak pernah surut. Selain itu, kota-kota lain yang propertinya berpeluang tumbuh adalah Bandung, Surabaya, Semarang, Makassar, Pekanbaru dan Medan.

"Saat ada ketidakpastian ekonomi global saat ini, maka ini menjadi saat yang tepat untuk menaruh portofolio investasi di properti," saran Panangian.

Ia menyimpulkan, potensi pertumbuhan properti tahun 2017 hanyalah awal. Sebab, ada potensi pertumbuhan properti terjadi di tahun 2018 dan 2019.

"Properti akan booming di tahun 2019, dengan kenaikannya bisa di atas 20%," kata Panangian.

Editor: Didik Trio
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved