Serambi Ummah

Waspadai Pengajian Khusus Tengah Malam dan Eksklusif

Jemaah berburu guru untuk belajar ilmu agama secara ‘eksklusif’, waktu dan materinya juga eksklusif yaitu khusus tengah malam, jaminan masuk surga.

Waspadai Pengajian Khusus Tengah Malam dan Eksklusif
Serambiummah.com
Halaman 1 Serambi Ummah Edisi Jumat (6/1/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seolah menjelma sebuah fenomena, jemaah berburu guru untuk belajar ilmu agama secara ‘eksklusif’, waktu dan materinya juga eksklusif yaitu khusus tengah malam, jaminan masuk surga.

Kelompok yang mengaku majelis yang serba eksklusif seperti inilah, menurut Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel, Dr H Akhmad Sagir yang perlu diwaspadai oleh jemaahnya.

“Pengajiannya khusus tengah malam, kemudian yang diajarkan menjanjikan surga tanpa harus beribadah, khususnya salat. Ini jelas menyimpang,” ujar Sagir yang juga ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin ini.

Sebab, menurutnya, yang namanya mengaji atau mempelajari agama Islam itu tidak pernah ada yang mengajarkan adanya khatam salat, apalagi janji jaminan surga.

“Siapa kita tidak bisa menjamin surga bagi orang lain,” ujar dekan Fakultas Dakwah IAIN Antasari ini lagi.

Untuk itu, ujarnya, yang perlu diperhatikan umat sebelum menentukan berguru agama kepada seorang guru itu adalah yang dalam majelisnya, dalam proses pengajiannya menyampaikan syariat Islam sesuai yang didakwahkan Rasulullah SAW.

Diakuinya, di masyarakat kita, ada ‘guru’ yang mengatasnamankan Islam dan ilmu tasawuf namun mengajarkan hal-hal yang sangat bertentangan dengan ajaran Rasulullah.

“Tasawuf itu bagus sebagai ilmu untuk memudahkan mempelajari ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah,”tambahnya.

Sebagai ulama yang berada di jajaran lembaga MUI Kalsel, Sagir mengakui masih adanya masyarakat yang tersesat saat memilih guru majelisnya, sehingga mereka menjadi korban ajaran sesat atau ajaran menyimpang.

MUI, ujarnya, sebagai lembaga yang bertanggung jawab membina keimanan umat selama ini terus menyampaikan dakwah yang menggiring umat, agar tidak terperangkap dalam iming-iming menyesatkan ajaran menyimpang.

“MUI perangkatnya memang ada sampai ke daerah-daerah, walau pun demikian tidak bisa bekerja sendiri, harus bersinergi dengan pihak perguruan tinggi serta ormas Islam serta masyarakat yang terpanggil untuk membentengi muslimin agar tidak menjadi korban ajaran sesat ini. Insya Allah bisa,” ujarnya. (uum)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help