Pil Jin dan Majnun

Manusia ini memang aneh. Kadangkala, dia mau melakukan apapun asal teler, termasuk menelan pil jin alias zenith alias carnophen.

Pil Jin dan Majnun
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Manusia ini memang aneh. Kadangkala, dia mau melakukan apapun asal teler, termasuk menelan pil jin alias zenith alias carnophen. Jin dikenal dalam budaya Banjar sebagai makhluk yang hidup di ‘alam sebelah’. Selain itu, logat Banjar memang tidak mengenal bunyi z dan e, tetapi j dan i saja.

Adapun zenith berasal dari bahasa Inggris artinya puncak, suatu ketinggian yang tak ada lagi di atasnya kecuali langit. Hasrat manusia yang menggebu untuk ingin selalu menjadi orang nomor satu adalah wujud nyata dari ambisi berada di puncak itu. Dari puncak, orang dapat melihat dengan nyaman ke bawah, sedangkan dari bawah, orang harus menengadah ke atas, sehingga leher pun payah.

Alam gaib atau alam sebelah juga memiliki daya pikat tersendiri. Meskipun keberadaan alam sebelah itu diakui, tetapi tidak banyak orang yang benar-benar mengenal dan mengalaminya. Mengenal alam jin adalah keistimewaan dan kekuatan. Konon, makhluk di alam sebelah itu senantiasa dapat melihat kita di alam nyata, tetapi tidak sebaliknya. Alam sebelah itu misterius, menakutkan sekaligus memesona.

Masalahnya, bagaimanakah proses yang ditempuh hingga orang dapat mencapai puncak atau memasuki alam sebelah itu? Untuk sampai ke puncak, orang harus mendaki. Untuk memasuki alam rohani, orang harus mensucikan hati. Proses ini melelahkan dan menuntut keteguhan hati serta kesabaran. Padahal, salah satu kelemahan umum manusia adalah, dia suka tergesa-gesa, ingin serbacepat dan instan.

Mungkin itu sebabnya, sepanjang 2016 lalu, polisi menyita hampir 16 juta atau tepatnya 15.997.213 butir zenith di Kalimantan Selatan. Ini berarti, rata-rata lebih dari satu juta butir per bulan! Ini tentu belum termasuk yang telah dikonsumsi dan yang masih beredar di masyarakat. Tak salah jika pil jin ini disebut ‘pil sejuta umat’ karena saking lakunya dan menyebar jauh hingga ke pelosok desa.

Pada 10 Maret 2016, polisi Amuntai menangkap bos zenith yang dipanggil Tinghui (Sopian Sauri), pemilik Apotek Ceria karena memiliki hampir 1,5 juta butir obat Daftar G, terutama zenith. Ketika diadili, berkat tekanan massa, Tinghui divonis sembilan tahun penjara dan denda Rp 500 juta. Namun setelah naik banding, Pengadilan Tinggi Banjarmasin menjatuhkan vonis 1 tahun 6 bulan, dan denda Rp 10 juta saja!

Banyak pihak yang merasa kecewa dengan keputusan pengadilan ini. Tetapi, bagi aparat hukum, alasan tentu ada (atau bisa diada-adakan). Di antaranya karena dalam hukum dan peraturan yang ada, obat zenith tidak termasuk narkoba yang dapat dihukum berat. Karena itulah, beberapa pihak mengusulkan agar di tahun 2017 ini dibuat perda (peraturan daerah) khusus perihal penyalahgunaan obat zenith dan sejenisnya.

Usul tersebut baik sekali. Namun, kita juga perlu ingat, setiap orang ingin sampai ke puncak. Pil jin yang murah itu (Rp 25 ribu per keping, isi 10 butir) adalah jalan pintas bagi kaum menengah ke bawah. Sangat mungkin mereka sudah putus asa, merasa tidak sanggup lagi mendaki dalam keadaan papa. Mereka lari dari alam nyata yang sengsara, memasuki alam lain untuk mencapai puncak impian-impian mereka.

Mencari jalan pintas jelas bukan perilaku khas orang miskin. Kelas menengah dan atas juga tak kalah bergairah. Mereka korupsi, memeras, menipu hingga mengonsumsi narkoba agar sampai ke puncak yang diimpikan. Termasuk di dalamnya mereka yang diam-diam turut menikmati uang bisnis zenith dan narkoba. Mereka memilih jalan pintas bukan karena kemiskinan, tetapi karena keserakahan.

Dengan demikian, pil jin yang laris manis itu menunjukkan bahwa masyarakat kita sedang sakit. Penyakit yang dideritanya adalah kemiskinan dan keserakahan. Dua penyakit ini saling terkait. Keserakahan kaum berpunya akan membuat banyak orang menjadi miskin. Namun, pada saat yang sama, orang yang serakah itu pada hakikatnya juga miskin karena dia tak pernah merasa cukup.

Karena itu, selain peraturan yang keras, untuk memberantas tuntas pil jin, kita harus memberantas kemiskinan dan keserakahan. Jika tidak, akan makin banyak orang yang majnûn, yakni gila akibat kerasukan (pil) jin! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help