Jendela Dunia

Presiden Assad Siap Mundur dari Jabatannya dengan Syarat Ini

Pembicaraan yang disponsori Rusia dan Turki itu dijadwalkan digelar di Kazakhstan, tetapi pekan lalu pemberontak membekukan rencana itu

Presiden Assad Siap Mundur dari Jabatannya dengan Syarat Ini
AFP PHOTO
Presiden Suriah Bashar al-Assad saat diwawancarai sejumlah media Perancis di Damaskus, Minggu (8/1/2017). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, DAMASKUS — Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan, dia siap untuk merundingkan apa pun dalam pembicaraan damai dengan pemberontak, akhir bulan ini.

Pembicaraan yang disponsori Rusia dan Turki itu dijadwalkan digelar di Kazakhstan, tetapi pekan lalu pemberontak membekukan rencana itu karena serangan terus-menerus pasukan pemerintah.

Dalam komentarnya kepada media Perancis pada Minggu (8/1/2017), Assad menuding para pemberontaklah yang merusak gencatan senjata.

Assad juga membela manuver tentaranya yang berusaha merebut kembali Wadi Barada, sebuah lembah dekat Damaskus yang merupakan sumber air terbesar bagi ibu kota Suriah itu.

Dalam wawancaranya itu, Assad bahkan menyatakan bersedia lengser dari jabatannya sebagai presiden.

"Ya (bersedia mundur), tetapi jabatan saya terkait dengan konstitusi," ujar Assad.

"Jika pemberontak ingin mendiskusikan masalah itu, maka mereka harus mendiskusikan konstitusi," tambah dia.

Assad menambahkan, semua masalah yang terkait konstitusi harus diselesaikan lewat referendum, barulah rakyat bisa memilih presiden baru.

Posisi Assad dalam perang saudara ini kembali di atas angin setelah kesuksesannya merebut kembali kota Alepo bulan lalu.

Jika perundingan jadi digelar, sejauh ini juga belum jelas kelompok yang akan mewakili pihak pemberontak.

Selain itu, belum ada tanggal pasti negosiasi yang dijadwalkan digelar di Astana, ibu kota Kazakhstan.

Sebelumnya, beberapa perundingan yang disponsori PBB gagal menciptakan kedamaian di Suriah.

Setelah hampir enam tahun, perang saudara yang rumit di Suriah telah menewaskan lebih dari 400.000 orang dan mengakibatkan separuh dari penduduk negeri itu kehilangan tempat tinggal.

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help