BanjarmasinPost/

Begini Cara Arsitek Mengatasi Kekumuhan di Kota-kota Besar

Biasanya, permukiman kumuh identik dengan sejumlah hunian yang rapat, lingkungan yang kotor, amburadul, dan bau

Begini Cara Arsitek Mengatasi Kekumuhan di Kota-kota Besar
Kompas.com/Alsadad Rudi
Permukiman kumuh yang ada di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Biasanya, permukiman kumuh identik dengan sejumlah hunian yang rapat, lingkungan yang kotor, amburadul, dan bau.

Tidak hanya jelek dipandang, permukiman kumuh membuat keamanan dan kesehatan warganya juga rentan.

"Kumuh itu sebenarnya tidak pernah ada definisi yang jelas. Tetapi yang saya tangkap, kesan negatif bisa diatasi dengan sirkulasi udara dan cahaya alami yang baik," ujar arsitek dari RUJAK Center for Urban Studies Andesha Hermintomo kepada Kompas.com, Selasa (10/1/2017).

Menurut dia, hunian di dalam lingkungan permukiman harus didesain untuk berfungsi baik meski tanpa menggunakan pendingin ruangan.

Selain itu, hunian juga perlu dibangun dengan material yang aman dan tidak mudah terbakar. Begitu pula pola ruangnya, arus dibangun dengan lebih aman dari risiko kebakaran.

"Misalnya, penempatan dapur bukan di dalam unit hunian, tapi di tempat yang terawasi oleh komunitas atau tetangga yang lain," tutur Andes, sapaan akrab Andesha.

Ia menambahkan, lingkungan akan jauh dari kesan negatif kumuh jika tersedia ruang-ruang interaksi sosial serta dekat dengan sumber mata pencarian warga.

Hal ini, termasuk kemungkinan keluarga tersebut bisa punya warung di bagian depan rumah masing-masing.

Salah satu contoh desain lingkungan yang baru dirancang Andes untuk menghilangkan kesan negatif kumuh adalah Kampung Akuarium di Jakarta Utara.

Baca: Pasca-penggusuran Warga dan Arsitek Rancang Kampung Akuarium Vertikal

Halaman
12
Editor: Ernawati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help