BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Ritual Rutin Sengatan Harga Cabai

Memang, di antara 14 jenis barang kebutuhan pokok yang harga dan stoknya dikendalikan pemerintah (beras, kedelai sebagai bahan baku tempe

Ritual Rutin Sengatan Harga Cabai
BPost Cetak
Ilustrasi 

SEJAK hari pertama di tahun 2017, gejolak harga cabai mulai terasa. Puncaknya, satu dua hari lalu sempat menembus Rp 200 ribu di sejumlah tempat. Dan kemarin, operasi pasar yang dilakukan Bulog pun berdampak, meski harga ‘terpaksa’ masih dilabeli ‘mahal’.

Memang, di antara 14 jenis barang kebutuhan pokok yang harga dan stoknya dikendalikan pemerintah (beras, kedelai sebagai bahan baku tempe, cabai, bawang merah, gula, minyak goreng, tepung terigu, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, bandeng, ikan kembung, dan tongkol/tuna/cakalang), cabai masih menjadi primadona untuk kategori fluktuasi harga. Bahkan, beda antara saat mahal dan saat murah bisa disebut ugal-ugalan.

Sengatan ‘pedasnya’ harga cabai pun seringkali sampai ke istana. Presiden akhirnya merasa perlu berkomentar. Menurut Joko Widodo, cuaca dan musim yang buruk pada 2016 menjadi biang melonjaknya harga rawit.

Sambil meminta warga tidak cengeng, Menteri Pertanian kemudian mencanangkan Gerakan Nasional Penanaman 50 Juta Pohon Cabai di Pekarangan. Eksekusinya, pemerintah akan menyiapkan benih terunggul dan kemudian didistribusikan secara gratis pada semua warga.

Ya, bila program pemerintah ini sukses dan semua keluarga punya 50 pohon cabai, semua keluarga di negeri ini bisa memanen satu pohon pada setiap harinya. Dan bila sang pohon cabai mau berbuah setiap hari, pastilah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Solusi yang ditawarkan pak menteri, memang cocok bila negeri ini memang benar-benar kekurangan stok cabai. Padahal, berdasarkan data asosiasi petani, pada 2014 kita telah surplus cabai. Dari jumlah produksi 1,3 juta ton per tahun, kita hanya butuh sekitar 800 ribu ton. Artinya, sebelum ditambahi hasil panen keluarga saja, Indonesia sudah kelebihan stok sekitar 500 ribu ton.

Walhasil, persoalan fluktuasi harga cabai bukanlah soal stok tahunan. Namun, jumlah produksi yang melimpah itu, secara geografis, belumlah merata. Sehingga, ada persoalan arus barang pada musim-musim tertentu, kemudian memicu harga.

Selain itu, waktu panen juga tidak merata pada setiap hari di sepanjang tahun. Sehingga, di saat bulan cabai tidak ‘mau’ berbuah, harga menjadi melonjak.

Solusi yang seharusnya ditawarkan pak menteri adalah, bukan menambah jumlah pohon cabai melalui gerakan 50 juta pohon. Tapi, mengatur distribusi barang secara merata, sehingga daerah yang sedang ‘kebanjiran’ cabai bisa segera mengirimkannya ke kawasan yang lagi paceklik cabai.

Berikutnya, pak menteri juga seharusnya mulai memikirkan teknologi yang memungkinkan, cabai tetap berbuah sepanjang tahun dan dalam musim apapun.

Tentu, negeri sebesar Indonesia dengan jumlah orang cerdik pandai tidaklah sedikit, seharusnya bisa menemukan cara (setidaknya) untuk memecahkan dua persoalan itu. Dengan demikian, sengatan harga cabai tidak menjadi ritual rutin pada setiap tahun, yang memanaskan telinga siapa saja. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help