Pungutan Sekolah Membangun Kepedulian

Nyatanya angka putus sekolah di level pendidikan dasar masih cukup tinggi,dibanding Sekolah Menegah Atas (SMA).

Pungutan Sekolah Membangun Kepedulian
BPost cetak
Zulkifli Rahman 

BANJARMASINPOST.CO.ID,BANJARMASIN - Untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas pemerintah mengeluarkan PP nomor 47 tahun 2008 tentang wajar atau yang kita kenal dengan wajib belajar sembilan tahun, di mana tiap anak minimal harus punya ijazah Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Demi suksesnya program ini, hampir semua kepala daerah kabupaten/kota berlomba-lomba mencanangkan pendidikan gratis yang digadang-gadang mampu mengurangi angka putus sekolah dan suksesnya peraturan pemerintah tersebut.

Nyatanya angka putus sekolah di level pendidikan dasar masih cukup tinggi,dibanding Sekolah Menegah Atas (SMA). Masih banyaknya angka putus sekolah pada level dasar bukan karena tidak adanya biaya untuk tetap bersekolah, tapi karena tidak adanya kepedulian orang tua terhadap pendidikan anaknya.

Adanya program pendidikan gratis bagaikan dua sisi mata uang. Satu sisi sangat membantu bagi siswa miskin dan tidak mampu, tapi pada sisi lainnya program ini membutakan mata para orang tua.

Kepedulian orang tua terhadap pendidikan (sekolah) menjadi berkurang. Disamping itu juga mereka hanya melimpahkan tanggung jawab hanya kepada pihak sekolah, bahkan tidak pernah mau tahu.

Kepekaan terhadap pendidikan muncul jika anaknya disuruh membayar oleh sekolah seperti membeli buku, pakaian, dan perlengkapan lainnya. Mereka sadar dan akan memprotes kebijakan sekolah gratis yang digadang- gadang pemerintah.

Itu lah penggalan tulisan opini Zulkifli Rahman (guru SDN Pari-Pari, Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong) mengenai dunia pendidikan di negeri ini, khususnya di Kalimantan Selatan.

Selengkapnya, simak di Harian Banjarmasin Post edisi sabtu (21/1/2017).

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help