Bursa Saham

Saham Bank Berguguran Akibat Aksi Profit Taking

Saham BDMN mencetak penurunan harga terbesar dibandingkan dengan saham bank lain. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 1,67%

Saham Bank Berguguran Akibat Aksi Profit Taking
kontan
bursa saham 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Sehari setelah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan 7-days repo rate di angka 4,75%, mayoritas saham perbankan berguguran. Harga saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) turun 1,91% ke level Rp 4.100, Jumat (20/1).

Saham BDMN mencetak penurunan harga terbesar dibandingkan dengan saham bank lain. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 1,67% dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 0,45%.

Lalu, harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 0,81%, sedang saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) ditutup stagnan. Hanya saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang naik 0,53%. "Penurunan ini akibat profit taking," kata Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang kemarin.

Tapi, saham bank sudah naik tinggi menjelang akhir tahun lalu. Di sisi lain, pasar meramal kinerja perbankan di kuartal IV 2016 hanya beda tipis dibanding kuartal III.

Sehingga, kenaikan harga saham-saham perbankan di akhir tahun ditengarai karena ada window dressing. Jadi, tidak sepenuhnya murni lantaran ekspektasi kinerja. "Sekarang ada pengumuman bunga acuan BI, ini yang mendasari investor ambil aksi profit taking," ujar Edwin.

Bicara soal kinerja, secara umum performa perbankan memang positif tapi kurang istimewa. Pertumbuhan kredit hanya 8% secara year on year (yoy) pada November 2016 lalu. Total simpanan dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 8,4% (yoy).

Tapi, rasio kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) membaik jadi 3,18%. "Namun, rata-rata margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) turun tipis menjadi 5,62%," tulis Analis Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja dalam risetnya yang dirilis akhir pekan ini.

Itu sebabnya, Tjandra masih memandang netral untuk saham-saham sektor perbankan secara keseluruhan. Tapi, untuk spesifik ke emitennya, dia menyukai saham BBTN.

Edwin sepakat, BBTN masih menjadi saham bank yang paling menarik, apalagi dari sisi fundamental. "Permintaan properti masih tinggi karena masih adanya backlog (kekurangan suplai) perumahan," ujarnya.

Sedang Analis BNI Securities Richard Jerry menilai, sektor perbankan tahun ini overweight. Alasannya, hasil survei BI menunjukkan, pasar lebih optimistis menghadapi pertumbuhan kredit pada 2017.

Perkiraan responden terhadap rata-rata pertumbuhan kredit tahun ini mencapai 13,1%, atau lebih tinggi dari angka pertumbuhan kredit tahun lalu yang diperkirakan sebesar 9%. "Memang ada pemulihan, tapi belum akan sepenuhnya maksimal tahun ini," kata Richard dalam riset.

Richard memiliki angka proyeksi lebih konservatif. Pertumbuhan kredit 2016 dan 2017 masing-masing sebesar 9% dan 11%. "Kami memperkirakan kredit korporasi dan konsumer akan memimpin kenaikan kredit bank pada tahun ini," ujar dia.

Editor: Didik Trio
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help