Kisah I Gusti Ngurah Rai, Terungkap Suasana Batinnya Saat Tinggalkan Istri ke Medan Perang

Bertepatan dengan peringatan 100 tahun I Gusti Ngurah Rai yang jatuh pada 30 Januari 2017, Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) menerbitkan buku I Gust

Kisah I Gusti Ngurah Rai, Terungkap Suasana Batinnya Saat Tinggalkan Istri ke Medan Perang
I Gusti Ngurah Rai 

BANJARMASINPOST.CO.ID, DENPASAR – Bertepatan dengan peringatan 100 tahun I Gusti Ngurah Rai yang jatuh pada 30 Januari 2017, Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) menerbitkan buku I Gusti Ngurah Rai Pahlawan Nasional: Sisi-Sisi Humanis dalam Perang Kemerdekaan Indonesia di Bali.

Buku yang menceritakan sisi-sisi lain pahlawan nasional itu direncanakan akan diserahkan ke Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa dan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Senin (30//2017) hari ini.

Penyerahan dilakukan di acara peringatan 100 tahun I Gusti Ngurah Rai yang diadakan di lapangan Puputan Margarana, Tabanan.

“Buku ini bisa menjadi semacam pegangan untuk perenungan atau refleksi bagi semua generasi penerus. Mereka bisa saja para pemimpin saat ini, mahasiswa dan pelajar. Kami berharap nilai-nilai keutamaan hidup seperti keikhlasan, rela berkorban demi nusa-bangsa dan kesetiakawanan yang dicontohkan oleh Pak Rai (panggilan I Gusti Ngurah Rai) bisa ditiru,” jelas Prof. Wayan Windia, salah-satu penyusun buku I Gusti Ngurah Rai Pahlawan Nasional: Sisi-Sisi Humanis dalam Perang Kemerdekaan Indonesia di Bali ketika ditemui Tribun Bali, Minggu (29/1/2017), di Denpasar.

Selain Windia, yang juga terlibat dalam penyusunan buku terbitan Udayana Universty Press ini adalah I Wayan Sudarta dan Made Suarsa.

Berbeda dengan buku-buku tentang pahlawan pada umumnya yang lebih banyak menyoroti kisah-kisah peperangan, buku yang penerbitannya diprakarsasi oleh YKP ini lebih banyak bercerita tentang sisi-sisi non-perang dari sosok I Gusti Ngurah Rai.

Yang lebih ditekankan adalah suasana kebatinan dan perasaan I Gusti Ngurah Rai, yang memasuki medan laga di usia 28 tahun dengan meninggalkan seorang istri yang sedang hamil beserta dua anak kecil.

“Selama ini buku tentang Pak Rai (Gusti Ngurah Rai) normatif saja, yakni tentang perang di Margarana, dan sangat dokumentatif. Supaya ada buku yang tidak hanya membahas perang, kami menyoroti apa yang terjadi di balik perang itu. Kami menuliskan tentang sisi-sisi humanis dari Pak Rai ketika memimpin perang melawan penjajah di Bali,” terang Windia.

Ditulis dalam buku itu, misalnya, bagaimana percakapan antara Pak Rai dengan istrinya Desak Putu Kari sebelum I Gusti Ngurah Rai pamit untuk pergi berperang.

“Sebelum Pak Rai berpisah dengan istrinya, beliau bertanya ke istrinya `Putu mai malu, kude ngelah pipis (Putu ke sini dulu, punya uang berapa)?`Desak Putu lantas berpikir kok tumben ditanya soal uang,” tutur Windia, yang juga guru besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud).

Ide untuk membuat buku tentang sisi-sisi lain I Gusti Ngurah Rai itu, menurut Windia, memang berangkat dari cerita Desak Putu Kari.

Desak Putu sempat menuturkan bagaimana perjalanan hidup dirinya dan anak-anaknya saat ditinggal sang suami pergi perang.

Ketika pergi berperang, Pak Rai meninggalkan istrinya bersama dua anaknya I Gusti Ngurah Gede Yudana (berusia 4,5 tahun) dan I Gusti Nyoman Tantra (1 tahun) di rumah mereka di Desa Carangsari, Badung, sekitar 30 km utara Kota Denpasar.

Bayi dalam kandungan Desak Putu Kari, yang kemudian lahir dan diberi nama

I Gusti Ngurah Alit Yudha, tidak pernah melihat ayahandanya.

Sebab, keberangkatan Pak Rai untuk berperang saat itu menjadi kepergian beliau selama-lamanya.

Saat itu bertepatan dengan Galungan, yaitu hari kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (Keburukan), pada Budha Kliwon Dungulan, 19 Desember 1945.

Pak Rai meninggalkan Bali dalam sebuah perjalanan panjang menuju Yogyakarta, ibukota revolusi Republik Indonesia saat itu.

Saat ditinggalkan I Gusti Ngurai Rai, hidup Desak Putu Kari sempat luntang-lantung.

Dalam himpitan kesulitan ekonomi, warga masyarakat ternyata tidak berani menerima dan memberikan bantuan pada Desak Putu, karena takut pada Belanda.

Kalaupun ada yang mau terima dan memberikan makan, mereka cepat-cepat menyuruh Desak Putu pergi lagi agar tidak sampai diketahui tentara Belanda.

Akhirnya Desak Putu dan anak-anaknya ditahan Belanda, dengan tujuan agar Pak Rai menyerah.

“Kami gambarkan dalam buku bagaimana perasaan dan suasana batin Pak Rai saat mengetahui bahwa istrinya ditahan Belanda dan diberi makan seadanya,” ujar Windia.

“Kami terharu begitu mendengar cerita Bu Desak Putu Kari yang kini berusia 92 tahun. Kami meneteskan air mata juga menuliskannya kembali. Perasaan kami bercampur aduk,” jelas Windia dengan nada bicara yang mulai pelan dan mata yang terlihat berkaca-kaca.

Hadapi Cibiran

Dalam buku yang terdiri dari 11 bab tersebut, Windia juga menceritakan bahwa Gusti Ngurah Rai mendapat cibiran dari nelayan di Trunyan, Kintamani, yang sudah putus asa karena gempuran tentara Belanda.

“Setelah pertempuran Tanah Arom di Karangasem, dalam perjalanan dari Gunung Agung ke Kintamani, Pak Rai mendengar sayup-sayup para nelayan di Trunyan yang bernyanyi dengan menyindir kekalahan beliau. Padahal, sebetulnya saat itu beliau menang pertempuran. Mendengar hal itu, anak buah Pak Rai, Gusti Ngurah Pinda (kemudian jadi Wakil Gubernur Bali era Soekarmen) marah. Tapi, Pak Rai menanggapinya dengan tenang. Itulah jiwa kepemimpinan I Gusti Ngurah Rai. Jadi, di sini kita gak menceritakan peperangan dengan siapa, tetapi suasana batin orang-orangnya,” jelasnya.

Perang Kemerdekaan Indonesia di Bali berlangsung selama empat tahun 1945-1949, dan dilakukan oleh para pejuang yang terhimpun dalam organisasi Markas Besar Umum Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (MBO DPRI) Sunda Kecil atau sekarang dikenal dengan wilayah Nusa Tenggara.

Untuk menindaklanjuti Maklumat Pemerintah RI tanggal 5 Oktober 1945 tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), maka pada 1 November 1945 bertempat di Kantor Gubernur Sunda Kecil di Singaraja diadakan rapat untuk membentuk TKR Sunda Kecil.

Rapat dipimpin Gubernur Sunda Kecil I Gusti Ketut Pudja.

Dalam rapat tersebut terpilih secara aklamasi I Gusti Ngurah Rai sebagai pucuk pimpinan (pimpinan tertinggi) TKR Sunda Kecil dengan pangkat mayor.

Berbarengan dengan itu ditetapkan pula anggota stafnya antara lain I Gusti Putu Bagus Wisnu dan Wayan Ledang.

I Gusti Ngurah Rai segera memainkan peran, yakni mengadakan pendekatan secara persuaasif terhadap pihak petinggi serdadu Jepang yang berkedudukan di Denpasar.

Ia memohon agar secara sukarela mereka menyerahkan persenjataan kepada TKR Sunda Kecil.

Permohonan melalui pendekatan yang bersifat kekeluargaan itu ditolak, sehingga kemudian TKR merencanakan untuk melucuti serdadu Jepang secara serentak.

Padahal, para anggota TKR hanya bermodalkan beberapa pucuk senjata api dan sebagian besar masih menggunakan bambu runcing, kelewang, pentungan, keris, kapak dan senjata tajam lainnya.

Sedangkan di pihak musuh (serdadu Jepang) memiliki persenjataan yang jauh lebih lengkap dan modern serta personel yang lebih berpengalaman dalam perang.

Serangan terhadap tentara Jepang tersebut dilangsungkan 13 Desember 1945 jam 24.00 di bawah komando Resimen Sunda Kecil.

Gerakan pelucuran senjata di tiap-tiap kabupaten di seluruh Bali itu di bawah komando TKR setempat.

Dalam buku tersebut juga dituliskan simpang siur tentang tanggal kelahiran I Gusti Ngurah Rai.

“Kami cari informasi di Kodam dan tanggal lahir Pak Rai 30 Januari 1917, hari Buda Cemeng Klawu. Jadi besok beliau persis 100 tahun. Tetapi saat kami cek di buku tanda, dan cari tanda lahir kok gak cocok. Tanggal 30 Januari 1917 itu bukan Buda Cemeng Klawu tetapi Anggara Kasih. Dahulu orang Bali kan ingatnya Buda Cemeng Klawu. Setelah gempa besar 1917, Gunung Batur meletus hebat. Seharusnya cocoknya 19 Juli 1917. Ini kita ungkap juga dalam buku itu, walaupun perdebatannya kalau dicari tidak akan selesai,” urai Windia. (*)

Editor: Ernawati
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved